News update:

Suara Mamasa

mamasa, suara mamasa, berita mamasa, budaya mamasa, korupsi mamasa, pemerintahan mamasa, pilkada mamasa, pendidikan mamasa, mamasa cyber news, kabupaten mamasa, wisata mamasa, bupati mamasa, dprd mamasa, rumah mamasa, upacara mamasa, pasar mamasa

Popular Posts

Polewali Mandar

Nasional

Rumah Adat Tokayan

Rumah Adat Tokayan adalah Rumah Adat Mamuju

Tedong Bonga

Tana Toraja tak cuma terkenal dengan budaya nya, daya tarik lain yakni adanya rumah dari kerbau termahal di dunia.

Rumah Adat Mamuju

Rumah raja mamuju dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak untuk menyatukan balok-balok kayu

Baju Adat Toraja

Pakaian adat Toraja yang telah dimodifikasi dan dikenakan oleh duta Indonesia dalam ajang Manhunt International 2011

Wisata Kali Mamuju

Kawasan objek wisata permandian alam Kali Mamuju, Sulawesi Barat mulau dipadati pengunjung saat libur panjang

Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan Mamasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan Mamasa. Tampilkan semua postingan

HIPOTESIS: Asal Mula Rumah Adat Mamasa

Rabu, 25 Januari 2012

Pada mulanya bentuk rumah tradisional Mamasa tidak berbeda dengan bentuk rumah Tabulahan. Sama halnya seperti rumah-rumah di wilayah Pitu Ulunna Salu yang kebanyakan berlapiskan dedaunan, khususnya pada bagian atap. (Figure 1)


Mulanya ada keinginan untuk mendapatkan pelataran rumah yang lebih teduh, lebih terlindungi dari matahari dan hujan. Maka timbullah ide untuk mengekstensi/memperpanjang atap rumah di bagian depan dan belakang. Saat atap rumah diperpanjang diletakkan tiang penopang untuk menyanggah atap ekstensi agar tidak jatuh. (Figure 2)

Figure 2. Fase Ekstensi untuk Bagian Pelataran

Atap rumah melengkung. Pada fase ini ada 2 kemungkinan :
  • faktor kebetulan, dimana tiang penopang lebih tinggi daripada tinggi atap. Sehingga atap rumah yang harusnya mendatar jadi melengkung
  • faktor kesengajaan. Ada pemikiran untuk menaikkan atap rumah secara vertikal dengan tiang penopang lebih panjang dari atap, untuk mendapatkan view lebih maksimal, juga pencahayaan lebih agar pelataran lebih terang.

Diberikan palang pada posisi mendekati ujung atap agar atap rumah tetap pada posisi terbuka, tidak mengatup.(Figure 3)

Figure 3. Atap Rumah Melengkung ke Atas

Pada tahap akhir, atap sedikit lebih dinaikkan, agar penghuni bisa memandang keluar dengan lebih leluasa dan lebih cukup penerangan. Pada ruas atap tepi kiri-kanan setelah melalui proses modifikasi, mengalami pematahan. Dengan pematahan ini bentuk rumah mengalami penyempurnaan, dimana pada ruas kiri-kanan diperlebar. Pada bagian pelataran sedikit mengecil ke depan. Kuda-kuda memanjang dan condong ke depan untuk membantu menopang atap. Tiang penopang diperkuat pada bagian pelataran yaitu 2 tiang penopang, masing-masing dilengkapi palang plus penopang tambahan samping kiri-kanan-depan sehingga lebih kuat untuk menopang atap. Bagian serambi lebih panjang mengikuti atap.(Figure 4)

Figure 4. Tahap Penyempurnaan

Dan pada tahap selanjutnya atap rumah sudah berlapiskan kayu. Pada formasi inilah kemudian rumah adat ini menjadi Banua Sura’ dan Banua Layuk. Demikianlah rumah adat Mamasa mengalami penyempurnaan. Rumah yang lebih nyaman dan teduh.
Figure 5. Banua Mamase
Tambahan : untuk struktur atap yang lengkap biasanya lebih diutamakan atap bagian depan, hal ini juga berkaitan dengan filosofi tradisional. Sedang bagian belakang tidak begitu diutamakan, hanya sebagai pelengkap atau penyeimbang.

Dua hal yang menjadi dasar mengapa penulis mempunyai hipotesis semacam ini. Pertama, hingga saat ini, masih ada rumah gaya Tabulahan di Mamasa, baik rumah tradisional beratapkan dedaunan maupun rumah kontemporer (Banua Batu). Kedua, bila diamati secara seksama struktur rumah adat Mamasa pada dasarnya tidak berbeda dengan bentuk rumah Pitu Ulunna Salu pada umumnya, walaupun bentuk atapnya melengkung seperti perahu.

Ditulis oleh : Ali Badri

DARI PA’TOMATE, ROH MENUJU PUYA

Minggu, 15 Januari 2012



MAMASA - (MAMASA CYBER NEWS) Lantunan doa mengalun dalam irama monoton, menemani jenazah Uyung Kariwangan, Ketua Adat Dusun Kanan, Desa Puangbembe Mesakada, Kecamatan Simbuang, Kabupaten Tana Toraja.

Selama 18 hari mulai pukul 20.00 Wita hingga subuh, menjelang upacara penguburan, keluarga, waarga, dan para pelayat yang semuanya berbusana hitam bergantian berdoa mengitari jenazah.

Mereka bergerak ke kanan searah jarum jam. Siapa saja boleh ikut berdoa, yang tidak ikut berdoa tetap duduk di ruang yang sama. Ketika ada yang kelelahan dan keluar dari barisan pendoa, pelayat atau keluarga yang duduk menggantikan melantunkan doa dalam dalam irama ritmis dan tanpa alat musik apa pun.

Selama doa didaraskan, tiada suara lain terdengar. Burung malam dan kangkrik membisu, membiarkan tirai kesedihan bergayut di rumah duka.

Kegiatan itu disebut ma’badong, yakni kesenian penghiburan dalam ritual kematian. Tanpa kata-kata, hanya guman memilukan. Inti dari ma’badong adalah puji-pujian dan doa untuk mengantar roh ke puya (surga).

Sebelum ma’badong, pendeta dan para sesepuh memutuskan berapa kerbau yang akan dipotong. Jika belum ada keputusan, ma’badong tidak dapat terlaksana.

Uyung meninggal dunia pada 8 November 2009 di usia 110 tahun. Ia adalah keturunan terakhir parenge (bangsawan) keturunan Pana yang menganut Aluk Todolo atau kepercayaan leluhur.

Upacara penguburan sebesar penghormatan untuk Uyung berlangsung 30 tahun lalu, yakni upacara ibunda Uyung.

Upacara penguburan semegah itu hanya untuk keluarga bangsawan. Namun, sejak tahun 1980-an, mereka yang kaya pun boleh menggelar upacara serupa. Akan tetapi, tanpa perhitungan hari baik dan meniadakan beberapa kewajiban, seperti ma’dulang atau memberi makan jenazah secara bergiliran. Upacara demikian hanya untuk orangtua, pahlawan, dan pelindung masyarakat.

“Tidak pernah ada ritual pa’tomate bagi anak muda yang meninggal dunia,” kata Musni Lampe, antropolog lulusan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, yang kini mengajar Antropologi di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Ritual itu juga tidak berlaku bagi warga biasa. Apalagi untuk menyelenggarakan upacara penguburan demikian besar perlu biaya tinggi. Untuk upacara yang sangat sederhana, minimal menghabiskan dana Rp 50 juta.

Namun, untuk Uyung, tidak kurang dari Rp 500 juta. Rinciannya, sekama 18 hari memotong 200 babi dan 11 kerbau. Jika harga seekor babi menghabiskan dana Rp 1 juta, berarti untuk babi saja Rp 200 juta.

Harga seekor kerbau Rp 20 juta sehingga total dana Rp 220 juta. Di luar itu, keluarga menyediakan makanan bagi para tetamu, termasuk menyediakan kopi dan rokok.

Ketika Uyung meninggal, para pendeta mencari tanggal penguburan yang terbaik. Dari hasil perhitungan bulan, mereka sepakat waktu terbaik untuk menguburkan jenazah Uyung adalah Selasa, 16 Maret 2010. Selama empat bulan jenazah Uyung disemayamkan di rumah tinggal almarhum milik leluhur yang berusia 300 tahun. Walau tanpa formalin, jenazah Uyung tidak mengeluarkan bau.

Jasadnya hanya mengering dan tetap utuh karena dibungkus kain belacu dan dimasukkan ke duni atau potongan kayu pinus yang tengahnya berlubang. Seluruh cairan tubuhnya atau borro menempel di kain belacu.

Sabtu, 13 Maret, jenazah dibuka lalu keluarga terdekat merangkap petugas pengurus kenazah, Solon (60) dan dua anaknya, membalur jasad Uyung dengan ramuan dari tetumbuhan. Sembari membungkus jenazah atau ma’bukku, Solong mengucapkan doa agar bau busuk jenazah berpindah jauh ke dalam hutan.

Solon membungkus jasad Uyung dengan puluhan kain sambu, kain tenun khas Mamasa dan Tana Toraja asal Simbuang. Ia menyelipkan pakaian kesayangan almarhum dan perhiasan emas.

Jasad Uyung terbungkus hingga mirip guling sepanjang 1,75 meter berdiameter 0,50 meter. Prosesi ma’bukku berlangsung tiga jam, mulai pukul 09.00 hingga berakhir pukul 12.00 wita.

Duni dan kain belacu dikuburkan di bawah pohon leluhur, sejenis pohon karet, yang berjarak 15 meter dari rumah.

Sebagai penanda almarhum seorang bangsawan, di atas kuburan duni dan kain belacu ditanam tiga pohon. Pohon sendana ditanam tangkainya, pohon lamba ditanam tunasnya, dan pohon tabang ditanam dengan setek.

Adapun bungkusan jenazah ditaruh di baruka, rumah beratap alang-alang yang dibuat seminggu sebelum jenazah diturunkan.

Senin, 15 Maret, berlangsung ma’pasitanduk tedong atau adu kerbau. Kerbau tersebut sumbangan dari penduduk dusun, desa, dan kecamatan lains ebagai pemberian balasan atas utang tak tertagih yang pernah diberikan almarhum semasa hidupnya.

Setelah itu, ritual pemotongan kerbau yang didahului dengan mebaba tedong atau mengucapkan doa pemotongan kerbau. Ada sembilan kerbau yang dipotong, semuanya harus ditombak terlebih dahulu baru kemudian lehernya ditebas.

“Kerbau tidak boleh disembelih sebelum ditombak. Kalau sudah terkena tombak, meski tidak terluka, kami boleh menyembelihnya dengan parang, “ kata Paulus Pasauk, pemimpin upacara pemotongan kerbau.

Sehari kemudian, enam orang menggotong jenazah ke liang jenazah di goa batu sejauh tiga kilometer dari rumah. Mereka seolah berlari, melewati jalan kecil dan licin lagi naik turun, meninggalkan para pelayat. Selesai penguburan, seluruh pengantar kembali ke rumah duka sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Mereka kembali memotong kerbau untuk makanan bersama. Untuk menandai usainya masa berkabung, semua keluarga dekat wajib mandi bersama di sungai, lalu makan nasi putih berlauk daging kerbau dari kerbau terakhir.

Penguburan Uyung menandai berakhirnya keluarga bangsawan keturunan Pana yang masih memeluk Aluk Todolo.

Ada keluarga bangsawan lain, tetapi mereka kini menganut agama samawi. Mereka yang bukan penganut Aluk Todolo tidak boleh menjalani upacara pa’tomate, kecuali mungkin jika ada lagi bangsawan yang beralih sebagai penganut Aluk Todolo.

Sejarah Gandang Dewata

Selasa, 10 Januari 2012



MAMASA - (MAMASA CYBER NEWS) Rante Pongkok merupakan Tanah Tua pemekaran dari Rante Suro desa Tondok Bakaru Kabupaten Mamasa Sulbar adalah tempat yang memiliki budaya serta adat istiadat dan hutan yang terjaga dengan misterinya sendiri. Misteri itu terbungkus oleh mistisisme ekologi Gandang Dewata.

Jika ditelisik, saintisme ekologi yang dianut para pakar lingkungan atau  mereka yang disebut sebagai ilmuwan ekologi, sungguh berbeda jauh dengan indigenous knowledge atau  kearifan pengetahuan lokal masyarakat
Jamak dipahami bahwa, untuk memahami sains atau ilmu pengetahuan maka langkah yang bisa ditempuh adalah, logico hypothetico verificatif yakni membuktikan bahwa sesuatu itu logis, dan padanya bisa diajukan hipotesis dan dapat dibuktikan. ia dapat diukur degan menggunakan rasio dan bukti empiris.

Sedangkan mistik, ukurannya ada pada kepercayaan yang kebenarannya dapat diukur dengan empiris. Karenanya acapkali ia adalah suatu pengetahuan yang tidak dapat dijelaskan secara rasional namun ia diyakini secara subjektif dan memang dapat dibuktikan secara empiris.



Kesimpulannya, sains tidak membutuhkan mistisme, mistisme tidak membutuhkan sains, namun manusia butuh keduanya.
Sampai disini dapat dipahami bahwa, mistik merupakan kekuatan intuisi yang memang tak bisa diperoleh dari bangku sekolah, perguruan tinggi dan teori teori akademis. Mistik secara intuitif merupakan kemampuan deep inner personality “personalitas dalam hati” untuk memahami apa itu kebenaran dan kesejatian. Mistik sering disalah pahami karena hanya ditinjau dari segi keterbatasan logika atau nalar, teori-teori sains, dan pandangan agama formal.




Esoterik Mistis G. Gandang Dewata (3037 mdpl)
Misteri dan “mistisme ekologi” ini akan selalu terjaga kekentalannya oleh para pengunjung yang hendak mendaki ke Gandang Dewata dan masyarakat setempat Dusun Rante Pongkok Kabupaten Mamasa.

Mendaki erat kaitannya dengan spritualitas sehingga untuk memahami kandungan esoterik yang dimiliki oleh Gandang Dewata butuh kejernihan akal dan pikiran. Gandang Dewata Sendiri jika ditinjau dari sejarah pada mulanya adalah daratan terendah di pulau Sulawesi hal tersebut dibuktikan dengan adanya batu besar berbentuk perahu yang konon ceritanya adalah milik Putri Raja yang kandas di Puncak Gunung Gandang Dewata. Tapi kini Gandang Dewata telah menjadi tanah tertinggi di Sulawesi Barat namun sisa-sisa lautan masih kadang kita jumpai.

Penghuninya, sebagaimana Daud, salah seorang tokoh masyarakat Mamasa yang dikenal sebagai “pakar” mistikus ekologi Gandang Dewata menyebutkan, masyarakat Rante Pongkok adalah masyarakat yang mempertahankan hidupnya dari bertani di alur pegunungan Gandang Dewata.

Secara sosiologis, Gandang Dewata telah memiliki hubungan emosional dengan masyarakat kampung terakhir Desa Rante Pongkok sejak dulu. Untuk memahami kepercayaan tradisional mistis terhadap keberadaan penghuni di hutan “perawan” tersebut jika mau jujur, merupakan konsep rumit pada extra-sensory perception of meta linguistic “metabahasa dalam kepekaan rasa batin”. Mereka menemukan cara rahasia melalui meta linguistic system untuk melindungi ciptaan Tuhan yang sangat kompleks di hutan tersebut. 

Dengan menghubungkan keberadaan turunnya Dewa yang membunyikan gendang yang senantiasa memberikan informasi kepada masyarakat melalui hutan, serta hutan sebagai lahan untuk menunjang hidup maka hutan terlegitimasi secara etik dan moral untuk dijaga dan dicintai.

Mitos Di Balik Indahnya Alam Gandang Dewata

Konon, dahulu kala ketika dewa-dewa masih senang turun ke dunia, maka Hutan Gunung Gandang Dewata adalah tempat pilihannya. Sebagian masyarakat mempercayai hal tersebut dan kepercayaan itu mungkin timbul dari apa yang mereka rasakan selama hidup dari sumber hutan.

Gunung Gandang Dewata masih tenang, tegak diselimuti kabut putih. Dan turunnya kabut tersebut dipercaya oleh segilintir masyarakat Rante Pongkok adalah keinginan para penghuninya.

Kepercayaan tersebut jelas sangat berbeda dengan apa yang kita yakini bahkan keberadaan pengembala anoa yang sampai hari ini belum pernah kita dengar bahkan kita lihat keberadaannya adalah benar adanya. Entah dari mana kepercayaan itu muncul. Jelasnya hal tersebut di paparkan oleh Daud yang juga tak lain adalah juru kunci Gunung Gandang Dewata saat pengambilan data Gunung Mambulilling di lapangan.

Banyak orang pernah mendengar legenda budaya bangsa maya. Selama ini, kesan sebagian besar orang terhadap bangsa maya tidak terlepas dari suasana hutan belantara.
Dimana bangsa maya, yang terlintas dalam benak sejumlah orang adalah sekelompok mahluk halus yang berada di dalam hutan belantara yang terpencil dan sepi.

Lalu siapakah bangsa maya penghuni Gunung Gandang Dewata tersebut. Keberadaan mereka diyakini oleh semua orang sebagai penghuni Gunung Gandang Dewata yang masih sebangsa dengan manusia. Mereka dari bangsa maya yang dikenal dengan nama To Membuni.
Diyakini mereka adalah salah satu penghuni  Gunung Gandang Dewata yang ada di dalam hutan, dan beraktivitas dalam hutan belantara. Mereka tidak banyak bercampur dengan manusia tetapi kadang pula menampakkan dirinya dan masuk ke dunia manusia.
Setiap alam kehidupan mempunyai urusannya masing-masing mereka tergolong dalam golongan mahluk-mahluk halus yang asli dan tinggal di dunianya bersama masyarakat sendiri.
To Membuni adalah sekelompok masyarakat yang tak tampak kasat mata namun dia dapat berkomunikasi dengan orang-orang tertentu.
“Inilah kenyataan misteri yang dikandung oleh Hutan Perawan Gunung Gandang Dewata dan setiap pendaki yang pernah kesana pasti bisa merasakan keberadaanya,” ungkap Daud suatau ketika kepada penulis.
To Membuni termasuk mahkluk halus yang hidup di alam demit (salah satu dari enam alam yang di huni mahluk halus). Bangsa ini memang senang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang hijau dan lebih sejuk hawanya, rumah-rumah mereka bentuknya sederhana terbuat dari kayu dan bambu. Mereka seperti manusia hanya bentuk badannya lebih kecil. Kehidupannya hampir sama seperti kehidupan di dunia manusia, yang membedakannya adalah tidak adanya sinar terang seperti matahari dalam lingkungan hidup mereka.

Dalam dunianya mereka merokok. Bahkan rokok yang mereka gunakan sama seperti di dunia manusia, membayar dengan uang yang sama, memakai macam pakaian yang sama, bahkan mereka mempunyai kota seperti di dunia manusia. Dan sekali lagi, Ia tak nampak oleh kasat mata.

Begitu banyak cerita yang diungkap oleh masyarakat Rante Pongkok Desa Tondok Bakaru Mamasa tentang keramatnya Gunung Gandang Dewata yang dapat membuat bulu kuduk merinding saat mendengarnya. Gunung keramat ini kemudian kian bertambah misterinya, utamanya saat peristiwa hilangnya Mayor Latang secara misterius di Alur Pegunungan Gunung  Gandang Dewata. Namun mampukah kita membuktikan kebenaran mitos tersebut. Entahlah. 


Sumber : latimojong wordpress

Tari Bulu Londong Mamasa

Minggu, 11 Desember 2011



MAMASA — (MAMASA CYBER NEWS) Tari Bulu londong adalah tarian tradisional yang dilakukan sebagai pengucapan syukur dalam acara Rambutuka ‘ yang berlatar belakang nazar disebut Sanaya, karena telah sembuh dari penyakit yang diderita oleh seseorang atau berhasil dalam medan perang Tarian ini dilakonkan oleh sejumlah Pria . Semakin banyak penarinya semakin semarak.

Busana dan perlengkapan :

1. Busana : Baju adat Mamasa

2. Alat : Kepala Manusia, sengo, Terompet alam bambu, tombak /pedang, Untak



Lelang Daging di Pernikahan? Hanya Ada di Mamasa

Minggu, 27 November 2011



MAMASA — (MAMASA CYBER NEWS) Berbagai kebudayaan di negeri ini memang selalu unik dan menarik. Salah satunya adalah budaya yang terletak di Mamasa, Sulawesi Barat. Lelang daging menghiasi prosesi pernikahan adat di Mamasa. Unik bukan? 

Kabupaten Mamasa merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Polewali Mandar berdasarkan UU No. 11 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Mamasa dan Kota Palopo di Sulawesi Selatan.
Berbagai adat dan kebudayaan menarik untuk ditilik di sini. Salah satunya adalah perkawinan adat Ma’randang di Mamasa yang sudah ada sejak beratus-ratus tahun yang lalu.

Dalam menyambut tamu undangan, biasanya disajikan kopi atau teh terlebih dahulu kemudian disusul dengan kue-kue kecil khas Mamasa. Undangan pun bisa beramah tamah dengan tamu yang lainnya sambil mencicipi penganan khas Mamasa.

Acara lalu dilanjutkan dengan petuah dalam bahasa Mamasa yang sangat halus (Tinggi kastanya),  yang hanya bisa diucapkan oleh ketua-ketua adat setempat.
Setelah acara selesai ditutup dengan doa dan dilanjutkan dengan acara makan bersama secara prasmanan tetapi ada juga yang sudah disiapkan oleh tuan rumah hidangan lengkap dipiring-piring yang ada termasuk lauk pauk dan daging.

Dan yang menarik serta unik dari pesta perkawinan ini adalah dimana diakhir acara diadakan lelang daging ditempat resepsi pernikahan oleh panitia dimana tujuannya untuk membantu biaya pernikahan kedua mempelai mulai dari paha,kaki, sampai kepala tersedia oleh panitia yang memang menyisakan potongan-potongan tersebut untuk dilelang.

Usai mengikuti prosesi adat, saatnya berjalan-jalan. Anda bisa membeli oleh-oleh khas Mamasa. Layaknya daerah lain, sandang masih menjadi daya tarik di sana. Kekayaan asli aneka kain khas Mamasa layak jadi primadona.

Salah satunya adalah Kain Sambu. Kain Sambu adalah kain khas daerah Mamasa yang dibuat dengan menggunakan alat tenun.

Menurut salah satu perajin kain Sambu, kain ini sangat diminati. Terbukti dari pesanan yang berkisar 200-300 helai per bulan, dengan omzet 20 juta per bulan.

Kain Tenunan Mamasa, terbuat benang khusus dan di olah tanpa mesin pabrik, dapat bertahan sampai ratusan tahun dan setiap corak dan tekstur serta warna mempunya sejarah tersendiri dari Kabupaten Mamasa.

Kain ini juga yang dijadikan ciri khas para pejabat yang ada dilingkungan pemda kabupaten maupun Bupati sehingga mereka mengenakannya sebagai baju daerah yang dipergunakan saat acara-acara khusus dalam pemerintahan maupun acara masyarakat umumnya. Cuaca yang dingin menjadikan kain Sambu cocok digunakan juga oleh masyarakat untuk mengurangi rasa dingin yang menyengat sampai ke tulang.

Bagaimana, menarik bukan? Kalau anda tertarik dengan pengalaman di Mamasa, anda bisa berlibur ke sana, dengan menempuh perjalanan melalui pesawat dan mendarat di Makassar. Anda bisa menlajutkan perjalanan dengan mobil menuju Mamasa langsung atau bisa melalui Polewali dan dilanjutkan ke Mamasa sekitar 12 jam perjalanan darat.

Selamat berlibur dan mencoba pengalaman yang tak terlupakan di Mamasa.


Kurs USD - IDR

Sumber: BI

Forex


The Forex Quotes are Powered by Forexpros - The Leading Financial Portal.

Berita Mamasa

Majene

Kebutuhan Mamasa

 

© Copyright Berita Mamasa 2011 | Design by Mamasa Cyber News | Published by Mamasa Cyber News 2012 | Powered by MCN 2012.