News update:

Suara Mamasa

mamasa, suara mamasa, berita mamasa, budaya mamasa, korupsi mamasa, pemerintahan mamasa, pilkada mamasa, pendidikan mamasa, mamasa cyber news, kabupaten mamasa, wisata mamasa, bupati mamasa, dprd mamasa, rumah mamasa, upacara mamasa, pasar mamasa

Popular Posts

Polewali Mandar

Nasional

Rumah Adat Tokayan

Rumah Adat Tokayan adalah Rumah Adat Mamuju

Tedong Bonga

Tana Toraja tak cuma terkenal dengan budaya nya, daya tarik lain yakni adanya rumah dari kerbau termahal di dunia.

Rumah Adat Mamuju

Rumah raja mamuju dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak untuk menyatukan balok-balok kayu

Baju Adat Toraja

Pakaian adat Toraja yang telah dimodifikasi dan dikenakan oleh duta Indonesia dalam ajang Manhunt International 2011

Wisata Kali Mamuju

Kawasan objek wisata permandian alam Kali Mamuju, Sulawesi Barat mulau dipadati pengunjung saat libur panjang

Tampilkan postingan dengan label Mamasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mamasa. Tampilkan semua postingan

Kantor DPRD Mamasa Diduduki Massa

Rabu, 15 Februari 2012




MAMASA - MAMASA CYBER NEWS Massa pendukung mantan Bupati Mamasa, Sulawesi Barat, Obed Nego Depparinding, serta 23 mantan anggota DPRD Mamasa periode 2004-2009 silam, menduduki kantor DPRD setempat, Rabu (15/2). Mereka menuntut digelarnya sidang paripurna DPRD untuk mengembalikan Obed Nego sebagai Bupati Mamasa.

Sambil mengendarai sepeda motor dan mobil bak terbuka, mereka menuntut pengembalian Obed Nego Depparinding sebagai Bupati Mamasa paling lambat 30 hari setelah keluarnya putusan peninjauan kembali Mahkamah Agung. Di putusan tersebut menyatakan mantan bupati Obed Nego Depparinding bersama 23 mantan anggota DPRD Mamasa tidak bersalah dalam kasus perjalanan dinas fiktif.

Massa mengancam akan terus berada di Kantor DPRD Mamasa hingga keinginan mereka dipenuhi.

Sumber : Liputan 6

Batal, Sidang Paripurna Penetapan Obed



MAMASA, MAMASA CYBER NEWS - Upaya massa mendesak anggota DPRD Mamasa Sulawesi Barat menggelar Rapat Paripurna penetapan mantan Bupati Obed Nego Depparinding kembali menjadi Bupati Mamasa hingga 2013 mendatang tak membuahkan hasil. Rapat Paripurna di kantor DPRD Mamasa batal digelar, Rabu (15/2/2012).

Pembatalan terjadi karena hanya 5 dari 24 anggota DPRD Mamasa yang hadir. Sementara di luar gedung, ribuan pendukung Obed yang diberhentikan dari jabatannya sejak pertengahan tahun 2011 lalu, terus melakukan aksi unjuk rasa. Ando Bonggakaradeng, koordinator aksi menyatakan, jika Pemerintah menjunjung tinggi hukum maka tak ada alasan lain bagi pemerintah untuk memulihkan nama baik dan jabatan Obed. 

Pengunjuk rasa menyatakan akan terus beraksi sampai anggota DPRD Mamasa menggelar rapat paripurna untuk menetapkan Obed kembali menjadi Bupati Mamasa. Mereka juga mendesak Gubernur Sulawesi Selatan dan Mendagri agar segera mencabut SK Penetapan Ramlan menjadi Bupati Mamasa dan mengangkat Obed menjadi Bupati melalui SK penunjukan yang baru. 

Sementara itu, aktivitas di kantor DPRD Mamasa sejak dua hari terakhir lumpuh. Tak ada kegiatan yang bisa berjalan di kantor DPRD menyusul aksi yang digelar massa pendukung Obed. Mereka menduduki gedung tersebut, dan hingga kini pihak keamanan belum mengambil tindakan.

Sumber : Kompas

FPSM Imbau Massa Tidak Anarkistis





FORUM Peduli Stabilitas Mamasa (FPSM) Makassar mengimbau massa yang menggelar demonstrasi di Kabupaten Mamasa tidak anarkistis. Ketua FPSM Robinson mengatakan, menyampaikan pendapat adalah hak setiap orang. 

Namun, jangan sampai itu mencederai kerukunan dan tatanan sosial yang terjalin baik yang ada di Mamasa saat ini. Robinson datang berkunjung ke Kantor Harian SINDO Sulselbar di Jalan H Bau, didampingi Soleman Randuk (sekretaris),Yoel (bendahara), Yultan (anggota),Erick Tholan (anggota), dan Aris Bamba (anggota).“Jangan rusak fasilitas karena nanti yang rugi kita semua,”kata Robinson.

Saat ini ketakutan yang melanda masyarakat Mamasa adalah batas akhir ketegasan putusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi agar segera memberikan keputusan tegas menyikapi putusan kasus yang terjadi di Mamasa pada Sabtu (18/2) ini. Sekadar diketahui, Mahkamah Agung (MA) telah menjatuhkan vonis pidana korupsi kepada mantan Bupati Mamasa Obednego Depparinding (periode 2008–2013) bersama 23 anggota DPRD Mamasa periode 2004-–2009. Mendagri menyikapi dengan mengeluarkan SK pemecatan Obed yang saat itu masih menjabat bupati Mamasa.

Tidak berselang lama,MA kemudian mengabulkan PK para terpidana, termasuk Obed yang terpilih sebagai bupati pada 2008 lalu. Pembebasan dan pemulihan nama baik pun tercantum dalam amar putusan MA, sesuai putusan PK No 186 PK/PID.SUS/ 2011, tertanggal 18 Januari 2012. Dari putusan itu,kemudian Mendagri harus menentukan putusan mengenai PK MA tersebut. Sebagian masyarakat yang kini demo dengan menduduki Kantor DPRD Mamasa menuntut agar jabatan Obed sebagai bupati Mamasa dikembalikan. ”18 (Februari), takutnya ada gejolak yang lebih besar,” kata Soleman.

Ditambahkan Yultan, Obed merupakan pemenang Pilkada Mamasa 2008 dengan kemenangan mutlak yang mendapat dukungan 60% pemilih.Karena itu,massa pendukungnya besar. ”Kami putra Mamasa yang ada di perantauan (Makassar) prihatin dengan situasi di sana. Kami mendesak secepatnya ada putusan,”kata Robinson.

Menurut Yultan, tatanan sosial yang ada di kabupaten yang berjarak sekitar 90 km dari Kabupaten Polman itu mengenai istilah adat tuo dan adat mate dengan satu nenek moyang. ”Kalau ada masalah seperti ini bisa pecah,” katanya.

Pasukan Brimob Disiagakan di Mamasa



MAMASA, MAMASA CYBER NEWS — Untuk mengantisipasi situasi keamanan menyusul aksi unjuk rasa ribuan massa pendukung mantan Bupati Mamasa Obed Nego Depparinding, Polres Mamasa telah menurunkan satu peleton pasukan Brimob untuk bersiaga di Mamasa, Sulawesi Barat. Pasukan tersebut belum termasuk petugas on call di sejumlah polres terdekat dan satu kompi Brimob Parepare yang bisa digerakkan setiap saat jika diperlukan.

Kapolres Mamasa Ajun Komisaris Besar I Made Sunarta menyatakan, pihaknya menghargai siapan pun yang akan menyampaikan aspirasi, termasuk massa pendukung Obed. Namun, Sunarta meminta siapa pun yang melakukan aksi unjuk rasa tidak sampai bertindak anarki.

"Silakan sampaikan aspirasinya karena itu hak dan dilindungi undang-undang, tetapi jangan sampai berbuat anarki karena itu mengganggu hak dan kepentingan yang lain," katanya.

Sementara koordinator aksi, Andi Daeng Bonggadatu, menyatakan akan terus melakukan aksi unjuk rasa pendudukan Kantor DPRD Mamasa dan sejumlah lokasi di Mamasa sampai Mendagri membatalkan SK pengangkatan Ramlan dan mengembalikan Obed Nego Depparinding menjadi Bupati Mamasa dan nama baiknya dipulihkan.

"Karena Obed dilengserkan dengan alasan hukum, demi alasan hukum pula Obed harus dikembalikan ke jabatannya serta nama baik keluarganya dipulihkan," ujar Andi.

Menurut Andi, pemerintah harus menunjukkan sikap yang menjunjung hukum sebagai panglima, bukan malah mempermainkan putusan hukum dengan alibi yang dibuat-buat. Hal tersebut akan semakin melemahkan citra penegakan hukum yang telanjur buruk di mata masyarakat.

Sesuai putusan Mahkamah Agung, salah satu amar putusannya meminta Obed Nego Depparinding dikembalikan ke jabatannya karena dinilai tidak terbukti melakukan tindakan korupsi apa pun seperti didakwakan. Massa pendukung Obed bahkan mengancam akan melumpuhkan aktivitas kantor-kantor pemerintah atau pengadilan rakyat di Mamasa jika aksi mereka tidak segera mendapat tanggapan serius pemerintah dan anggota DPRD setempat.

Anggota Komisi II DPRD Mamasa, Elisabeth, menyatakan, berdasarkan putusan kasasi MA, tak ada alasan bagi pemerintah dan DPRD Mamasa untuk tidak menetapkan Obed nego Depparinding menjadi Bupati Mamasa dalam Rapat Paripurna DPRD Mamasa.

"Karena ini putusan tertinggi dari MA, tidak ada alasan siapa pun untuk tidak menjalankan putusan hukum tersebut karena ini negera hukum," ujar Elisabet seusai menghadiri rapat paripurna yang dibatalkan karena tidak kuorum.

Sumber : Kompas

Gedung DPRD Mamasa Ambruk

Rabu, 08 Februari 2012



MAMASA - MAMASA CYBER NEWS - Sejumlah bagian di Gedung DPRD Mamasa, Sulawesi Barat, rusak diterjang angin kencang, baru-baru ini. Sejumlah bagian atap gedung jebol. Kondisi tanah yang labil juga membuat dasar pondasi ambles beberapa sentimeter.

Tembok-tembok gedung yang baru empat tahun dibangun itu juga retak sehingga berbahaya jika digunakan. Konstruksi bangunan yang diduga tidak memenuhi standar keamanan menjadi faktor lain ambruknya gedung yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah itu.

Menurut Sekretaris DPRD Mamasa Marten, ambruknya gedung disebabkan faktor cuaca buruk. Kondisi tanah juga makin mempercepat kerusakan gedung. Ia tak ingin menduga-duga jika pembangunan gedung tersebut menyalahi bestek dan tidak sesuai standar keselamatan.

Marten menyatakan, pihaknya baru akan mengusulkan anggaran perbaikan gedung agar ruangan rapat dan sejumlah ruangan lain bisa segera direnovasi. Sebab, gedung tersebut masih digunakan, meski sejumlah bagiannya rusak. Jika tidak segera diperbaiki akan membahayakan penggunanya.

Wakil Ketua DPRD Mamasa Thomas mengakui ambruknya ruang aula diduga karena ada kesalahan konstruksi. Namun, untuk penyelidikan dugaan tersebut, dia mengaku bukan wewenangnya.

Sumber : Liputan6

AKBP I Made Sunarta : Mamasa Masih Kondusif dan meminta warga tetap tenang

Selasa, 07 Februari 2012



MAMASAMAMASA CYBER NEWS Kondisi keamanan dan ketertiban Kabupaten Mamasa pasca keluarnya putusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA) terkait kasus yang membelit mantan Bupati Mamasa, Obednego Depparinding serta 23 mantan anggota DPRD Mamasa tetap dalam kondusif. Penegasan ini disampaikan Kapolres Mamasa, AKBP I Made Sunarta ketika ditemui, Selasa 7 Februari kemarin.

“Situasi Mamasa masih dalam keadaan kondusif, terkait dengan adanya keresahan masyarakat yang berkembang akhir-akhir ini pasca keluarnya putusan PK dari MA untuk Obednego Cs,” ujar Sunarta.

Kapolres I Made Sunarta menjelaskan bahwa adanya putusan bebas MA kepada Obed Cs itu adalah hal yang wajar. Karena namanya ada upaya hukum oleh setiap orang yang memperjuangkan kebenarannya. “Kita harus menghargai putusan itu. Terkait masalah tidak lanjut putusan bukan kewenangan saya mengomentarinya, yang jelas kita menunggu saja keputusan Mendagri,” terang Sunarta.

Terkait keamanan di Mamasa, pihaknya tetap menjamin dalam keadaan kondusif. Kendali keamanan tetap dibawa kendali Polres dibantu pihak terkait lainnya. Pihaknya juga telah memerintahkan seluruh Polsek yang ada di Mamasa untuk siaga satu sepanjang belum adanya ketetapan politik di Mamasa. Bahkan Sunarta menambahkan jika terjadi hal yang tidak diinginkan, empat Polres siap memback up Polres Mamasa. 

Empat polres yang akan diterjunkan membantu menjaga situasi Mamasa yakni Polres Polman, Majene, Mamuju, Pinrang dan Brimob Polda Sulselbar. “Saya berharap kapada seluruh rakyat Mamasa agar tetap tenang dan tetap melakukan aktivitas sesuai dengan profesi masing-masing. Jangan sampai terhasut oleh
oknum yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja membuat keadaan menjadi kacau. Karena yang rugi adalah masyarakat sendiri, jika ada sesuatu serahkan ke penegak hukum,” tandasnya.

Sumber : Radar Sulbar

Satpol PP Mamasa Tertibkan Bangunan Liar

Senin, 06 Februari 2012



Laporan : Andi Sumaryadi
Editor : Amri Makkaruba


MAMASA — MAMASA CYBER NEWS - Dalam penegakan peraturan daerah (Perda) di Kabupaten Mamasa, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bertindak tegas. Termasuk melakukan penertiban bangunan liar yang dibangun tanpa izin mendirikan bangunan dari Pemkab Mamasa.

Kepala Satpol PP Mamasa, Domina Mogot, mengatakan bahwa penertiban bangunan liar terutama yang dibangun masyarakat disepanjang jalan negara dan tidak sesuai dengan sepadan jalan ditertibkan. Hal ini karena dapat mengangu ketertiban dan keselamatan pengguna jalan raya serta kenyamanan pengendara.

Domina Mogot mencontohkan sebuah bangunan di depan SMK Kifran Bangsa terpaksa ditertibkan karena tidak memiliki izin mendirikan bangunan. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan menertipkan adanya pembuatan kandang ternak yang berada sepanjang jalan poros Polewali Mamasa. “Saya sudah survey seluruh kandang ternak warga mulai dari perbatasan pintu gerbang Polewali Mandar di Pasapa hingga ke Kota Mamasa akan menjadi target penertiban Satpol PP,” terangnya.


Sumber : Radar Sulbar

Kemiskinan di Mamasa - Anggota DPD Temukan 8.000 Rumah Tak Layak Huni

Senin, 09 Januari 2012


Penulis : Rizaldi

MAMASA – (MAMASA CYBER NEWS) Anggota DPD Asri Anas menemukan sebanyak 8.000 unit rumah tak layak huni di Kabupaten Mamasa. Sebagian besar rumah tak layak huni itu berada di pinggiran sungai.

Asri Anas mengungkapkan, kemiskinan yang dialami warga Mamasa tak terlepas dari pendapatan asli daerah (PAD) dan APBD Mamasa yang minim. Kondisi anggaran ini berbanding terbalik dengan biaya operasional di Mamasa yang tinggi akibat berada di di daerah pegununganyangsaranainfrastuktur jalannya tak memadai. Dia menambahkan, mata pencaharian andalan warga Mamasa sebagai petani kopi tak adalagi.

Tanaman kopi di Mamasa telah nyaris punah.Padahal jenis kopi Robusta inilah yang paling cocok untuk kontur tanah Mamasa. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan bantuan tanaman kopi agar warga kembali dapat memiliki harapan penghasilan.“Dulu,mereka dapat menyekolahkan anakanaknya dari hasil kopi.Tapi sekarang, tidak dapat lagi karena tidak ada tanaman kopi.Sudah hampir punah,” kata mantan ketua KNPI Sulbar ini kemarin.

Akibat kurangnya harapan hidup di Mamasa, imbuh dia, membuat kabupaten ini memiliki angka migrasi yang tinggi di Sulawesi Barat.Bahkan menjadikan berada di peringkat 50 dari 50 kabupaten termiskin di Indonesia. Putera Polman ini mengaku memiliki keprihatinan yang mendalam dari kondisi yang dialami warga Mamasa. Dia mengaku akan berupaya mencari solusi agar Kabupaten Mamasa bisa mendapat perhatian terutama soal perbaikan rumah tinggal dan peremajaan tanaman kopi.

“Saya akan melakukan espos dihadapan menteri menampilkan kondisi ril yang dialami warga Mamasa. Di kementrian saya mendengan ada program bedah rumah untuk warga miskin sebesar Rp25 juta per rumah. Mudahan-mudahan dengan ekspos tersebut Mamasa dapat prioritas,” ujar Asri.

Dia juga berharap agar pejabat di Mamasa lebih meningkatkan kepekaannya dengan tidak terpengaruh hidup mewah agar tidak terlalu mencolok perbedaan sosial yang bisa mengakibatkan kecemburuan sosial.


Pemprov Belum Tahu Kaburnya Transmigran dari Mamasa

Sabtu, 07 Januari 2012



MAMASA —(MAMASA CYBER NEWS)  Kasus kaburnya dua transmigrasi asal Jatim yakni Suparno dan Lastriani dari lokasi transmigrasi di Kabupaten Mamasa Sulbar dan terlantar di pelabuhan Parepare, ternyata belum diketahui Pemprov Sulbar.

Kepala Biro Pemerintahan Pemprov Sulawesi Barat Khaeruddin kepada wartawan, Selasa kemarin mengatakan hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai henkangnya sejumlah transmigrasi asal Jawa Timur. “Belum ada laporan terkait masalah itu,” katanya saat dihubungi Selasa 3 Januari kemarin.

Namun kata Khaeruddin permasalahan yang terjadi tidak seperti yang diutarakan para transmigrasi, yang memilih pulang ke kampung halaman. Mereka menjual sarana prasarana yang telah diberikan pemerintah untuk kembali ke kampung asal.”Permasalahan seperti itu hampir semua terjadi pada transmigrasi, karena mereka tidak betah dengan kondisi di tempat baru itu,”kata Khaeruddin. 

Setelah ada perdaftaran lain untuk transmigrasi di daerah asalnya menurut Khaeruddin para transmigran yang dulu kabur kembali mendaftar.”Ini yang dinamakan transmigrasi kutu loncat dan ini sulit untuk dideteksi,” ungkapnya.Khaeruddin menjelaskan, para transmigrasi tidak betah tinggal di areal transmigrasi, karena fasilitas yang dimiliki lokasi transmigrasi seperti jalan masih dalam rintisan.

Begitu juga dengan fasiltas lain.”Kan ini pengerjaannya dilakukan secara bertahap,”jelasnya.Ia membantah adanya warga lokal mengokupasi perumahan, yang semestinya menjadi milik transmigran. Tetapi warga transmigrasi yang tidak betah bermukim di areal transmigrasi, justru menjual lahan dan perumahan seharga Rp 7-8 juta perkapling kepada warga lokal. “Disanakan ada Unit Pelaksana Transmigrasi ( UPT), jadi tidak mungkin warga lokal merebut lahan dan perumahan dengan seenaknya.Toh kalau ada UPT pasti melaporkan,”kata Khaeruddin. 

Begitu juga jika warga transmigrasi hendak keluar dari areal dalam jumlah banyak tentu terpantau oleh UPT.”Setiap ada transmigrasi dari luar, warga lokal juga diikutsertakan,” katanya. Khaeruddin menambahkan, setiap transmigrasi selain dibagikan lahan dan perumahan, juga perabot rumah serta bibit tanaman. Transmigran juga diberikan jatah untuk hidup (jadup) selama melakukan perintisan lahan dari tiga bulan hingga enam bulan ke depan, sampai betul-betul mandiri.Sementara Sekretaris Kabupaten Mamasa Benhard Buntu Sibojong yang dikonfirmasi melalui selulernya tidak berhasil, karena hand phone yang biasa dipakai tidak aktif.


Sumber : pare pos

Mamasa Masuk 50 Kabupaten Termiskin di Indonesia



MAMASA —(MAMASA CYBER NEWS) Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata ternyata termasuk dalam wilayah termiskin dari 50 kabupaten/kota yang di tetapkan termiskin di seluruh Indonesia.

Hal tersebut diutarakan Anggota DPD RI, Asri Anas di Majene, Jumat, yang menyebutkan bahwa dari 50 kabupaten/kota termiskin di seluruh Indonesia, Mamasa sangat jauh tertinggal dan berada pada urutan 40 dan hal tersebut dianggap sangat memprihatinkan, dibanding dengan potensi yang dimiliki.

"Selain memiliki potensi pariwisata, Mamasa juga memiliki potensi perkebunan kopi, peternakan, dan budidaya ikan tawar. Namun potensi tersebut tidak terkelola dengan baik oleh pemerintah setempat sehingga tidak memberi manfaat bagi warga," ucapnya.

Rendahnya pengembangan potensi kedaerahan, dari lima kabupaten di Sulbar, warga Mamasa paling banyak memilih untuk melakukan migrasi ke daerah lain agar mendapatkan lapangan pekerjaan dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Asri menyebutkan, paling banyak warga Mamasa ditemukan di Kabupaten Pinrang, dan Sidrap, Sulawesi Selatan, serta di Kabupaten Polewali Mandar dan Mamuju, Sulbar, sebab kabupaten tersebut berdekatan dengan Mamasa dan masih cukup tersedia lapangan pekerjaan.

"Sejumlah warga yang ditemui mengaku sekitar sembilan tahun sebelumnya masih memiliki sumber penghasilan memadai melalui perkebunan kopi dan budidaya ikan air tawar. Akan tetapi tidak dilakukan peremajaan sehingga sebagian besar tanaman kopi warga sudah tidak produktif lagi," terangnya.

Sumber penghasilan lain yang tidak termaksimalkan adalah budidaya ikan air tawar, meskipun saat ini Mamasa telah memiliki dua lokasi balai pengembangan dan budidaya ikan tawar yang dialokasikan dari pemerintah pusat.

Bahkan, lanjut Asri, potensi pariwisata Mamasa juga terhambat akibat sistem pemberdayaan warga tidak mampu dimaksimalkan dengan baik pemerintah setempat. Masalah akses transportasi yang minim juga menjadi faktor penghambat berkembangnya Mamasa.

"Tentunya untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan perencanaan yang matang dan mendalam atas seluruh aspek dan potensi yang bisa dikembangkan sehingga masyarakat mampu ikut mengembangkan perekonomian daerah," jelasnya.

Sehingga, lanjutnya, bantuan yang dialokasikan dari pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten bisa tepat sasaran dan memberi dampak positif kepada warga dengan salah satu indikator peningkatan perekonomian warga.


Sumber : antara news

75 KK Transmigran Tiba di Mamasa

Rabu, 28 Desember 2011

MAMASA — (MAMASA CYBER NEWSSebanyak 75 kepala keluarga transmigran asal Jawa Timur dan Banten tiba di Mamasa. Mereka tiba di Keppe, Desa Rantebulahan, Jumat (16/12) dan ditampung sementara di halaman Sekolah Dasar sambil menunggu pemberangkatan menuju ke lokasi.


Menurut keterangan seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Kependudukan Kabaupaten Mamasa, Yance Demmarua, yang diperbantukan melakukan penjagaan di tempat penampungan sementara di halaman SD Negeri Rantebulahan Kecamatan Mambi, mengatakan, para transmigran tersebut akan ditempatkan di Passembuk Desa Botteng Kecamatan Mehalaan.

Di lokasi tersebut, menurut Yance, telah disiapkan tempat yang dilengkapi fasilitas untuk mereka memulai kehidupannya di tempat yang baru.
Sebelumnya, kata Yance, para transmigran dengan jumlah total 196 jiwa tersebut tiba di pelabuhan Pare Pare pada hari Kamis. Mereka yang datang dengan barang bawaan segala macam alat perabot rumah tangga termasuk sepeda, kemudian dijemput dan diantar langsung oleh staf dari Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Sulawesi Barat sampai di Keppe Desa Rantebulahan.
Karena medan jalan menuju ke lokasi yang cukup berat dan hanya bisa dilalui mobil hardtop, mereka terpaksa tidak bisa diangkut sekaligus dengan barang-barang bawaannya sehingga harus ditampung sementara di halaman sekolah sambil menunggu giliran diangkut ke lokasi.

Sumber : Mamasa Community

Program BUKU UNTUK MAMASA melalui MAMASA COMMUNITY



 MAMASA — (MAMASA CYBER NEWS)
Hampir secara keseluruhan, bangsa yang sudah maju dan ingin maju, kegiatan membaca merupakan suatu kebutuhan, sama seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan (SPP). Membaca adalah satu aktivitas penting bagi terciptanya generasi-generasi yang memiliki wawasan luas dalam segal hal, dan sudah barang tentu peka terhadap kondisi lingkungannya. Ada pepatah yang mengatakan, dengan membaca kita bisa membedah isi dunia. Sebenarnya, dengan membaca, seseorang telah melibatkan banyak aspek; meliputi berpikir (to think), merasakan (to feel), dan bertindak melaksanakan hal-hal yang baik dan bermanfaat sebagaimana yang dianjurkan oleh bahan bacaan (to act).


Akan tetapi di negeri Ibu pertiwi ini, budaya membaca belum sepenuhnya menjadi laku keseharian, mengingat di satu sisi, pendidikan kita belum mampu meletakkkan pondasi dasar bahwa membaca adalah kebutuhan paling vital sebelum jauh menginjak tingkat pendidikan ke arah yang lebih tinggi. Di lain sisi, pendidikan sampai saat ini pun belum menjamah seratus persen sampai ke setiap wilayah pelosok negeri, terutama desa-desa terpencil yang tidak mendapat perhatian lebih, baik dari pemerintah daerah maupun pusat.


Masalah gemar membaca sudah menjadi masalah bangsa, karena rendahnya budaya membaca bagi bangsa kita sudah sangat memperihatinkan, belum lagi di era serba tekhnologi ini, budaya membaca semakin mengalami kemunduran, pasalnya, serbuan media elektornik, seperti televisi, internet, radio, dan lain sebagainya telah membuat aktivitas membaca menjadi pekerjaan yang dinomorkan berikutkan. Tidak hanya generasi yang instan yang bakal lahir, melainkan manusia-manusia yang tidak mengawali satu pekerjaan dari nol dan bersungguh-sungguh, sehingga orisinalitas ide serta beragam inovasi dari bermacam kreativitas menjadi hal yang sangat sulit direalisasikan, apalagi dikembangkan.


Dengan demikian, fenomena sosial di atas adalah terjadinya lompatan budaya dalam masyarakat. Kita telah diserbu budaya media massa, padahal budaya baca belum tercipta dengan kuat dan menyeluruh menyentuh ke semua lapisan struktur masyarakat.


Patut diketahui, di masyarakat Barat, munculnya budaya menonton televisi setelah didahului dengan terciptanya budaya baca yang kuat. Artinya, walaupun masyarakat Barat juga banyak menonton televisi, mereka tetap mampu mempertahankan budaya bacanya secara militan.


Gambaran nyata dari lemahnya budaya baca dalam masyarakat kita, tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2003. Penduduk berusia di atas 15 tahun yang membaca koran hanya berjumlah 55,11 %, sedangkan yang membaca tabloid atau majalah sebesar 29, 22 %. Penduduk yang membaca buku fiksi 44, 28 %, dan yang membaca buku pengetahuan 21, 07 %.
Keadaan tersebut semakin diperparah, sesuai laporan UNESCO, bahwa di atas 10 % warga Indonesia masih menderita buta huruf, jauh di atas negara-negara tetangga di Asia Tenggara, kecuali kawasan Indocina. Lebih dua kali lipat dari pria, perempuan Indonesia buta huruf.
Data BPS 2006 juga menunjukkan bahwa masyarakat yang mendapatkan informasi lewat cara membaca buu baru mencapai 23, 5 %. Kondisi itu lagi-lagi kontras dengan perolehan informasi dari televisi yang mencapai 85,9 %.
Tampak nyata bahwa televisi begitu digemari. Padahal menurut Dharma Singh Khalsa, dalam Brain Longevity, televisi menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, dan terutama sekali merusak kecerdasan spasial dan otak sebelah kanan. Bahaya paling besar dari televisi ialah mengalihkan perhatian orang dari membaca buku.


Sehingga satu pertanyaan yang layak untuk diajukan saat ini, apakah kita semua, apa pun profesi kita dan siapa pun adanya kita, untuk mau mempelopori terciptanya budaya baca dalam masyarakat.


Sepertinya, kita patut belajar dari seorang John Wood, eksekutif Microsoft yang memilih keluar dari pekerjaannya demi memelopori terciptanya budaya baca dan memberantas buta huruf.
la mendirikan tak kurang dari 3.600 perpustakaan di Asia; menggagas room to read bagi anak-anak penyandang buta aksara, anak-anak miskin dan putus sekolah. Ia begitu tersentuh hatinya tatkala bertemu dengan anak-anak buta aksara di kaki Gunung Himalaya.


Sebenarnya, kiprah John Wood telah menampar wajah sombong kita, para kaum terpelajar (weel educated) negeri ini yang masih malas untuk membaca.

Dari kondisi semacam inilah, Mamasa Community mencoba menghidupkan kembali budidaya membaca dari desa, karena sampai saat ini masyarakat desa semakin terpinggirkan oleh segala sistem yang berjalan di negeri atau dunia ini. Dengan kata lain, masyarakat desa masih dipaksa tidur lelap di atas kubangan kebodohannya.


Maka dari pada itu, Mamasa Community berencana membuka layanan baca gratis atau taman bacaan bagi masyarakat untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. di daerah Mamasa Sulawesi Barat, dari kegiatan tersebut, Mamasa Community berharap akan lahir benih-benih generasi desa yang cerdas, matang dan maju untuk menjauhi segala ketertinggalannya.
Bagi yang berkerinduan membantu bisa kirim ke:
 

TRIPUTRA COMPUTER
d/a. Samping Bank Sulselbar, Rante-Rante, Desa Osango, Kec.Mamasa, Kab. Mamasa.
a/n. Alfian Demmapapa
cp. 085299927809

Warga Keluhkan Pelayanan Indosat di Mamasa

Selasa, 27 Desember 2011



MAMASA - (MAMASA CYBER NEWS) Sejumlah warga yang ada di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, mengeluhkan pelayanan Indosat karena dinilai mempermainkan tarif pulsa.

"Semenjak Indosat memberikan pelayanan jasa komunikasi hingga ke kecamatan di Kabupaten Mamasa, masyarakat memang cukup terbantu karena mereka dapat berkomunikasi dengan seluruh kerabat dan keluarga maupun teman sekerjanya di luar Kabupaten Mamasa, kata Azhar saat mewakili puluhan warga Kabupaten Mamasa di Mamasa, Senin.

Namun, lanjutnya, sebagian besar masyarakat mengeluh karena tarif pulsa yang diberikan Indosat ketika setiap warga akan menggunakan jasanya berhubungan dengan pihak lain di luar Kabupaten Mamasa karena dinilai tidak wajar.

Ia mengatakan, apabila warga Mamasa mau berkomunikasi dengan kerabat atau keluarganya yang ada di luar Kabupaten Mamasa, maka tarifnya cukup mahal, tanpa masyarakat mengerti mengapa demikian.

"Kalau masyarakat dari Mamasa menelpon kerabatnya ke Kabupaten lain di Provinsi Sulbar maka tarifnya cukup mahal yakni setiap 15 detik tarifnya mencapai Rp40.000," ujar Azhar yang juga Ketua Komunitas masyarakat peduli lingkungan.

Tetapi, kata dia, kalau masyarakat dari kabupaten lain di Sulbar menelpon kerabatnya yang ada di Kabupaten Mamasa maka tarifnya per 15 detik hanya Rp150.

Akbar, warga lainnya mengaku sangat dirugikan dengan kondisi itu karena pemakaian pulsa yang tarifnya begitu tinggi ketika menghubungi keluarganya di luar Kabupaten Mamasa, cukup membebani ekonominya.

"Mestinya ketika menghubungi atau dihubungi dari luar Kabupaten Mamasa, tarifnya sama, tetapi ini kok berbeda, tarif ketika menghubungi dari Kabupaten Mamasa justru mahal, ada apa dengan pelayanan Indosat," katanya.

Oleh karena itu ia meminta pihak Indosat menjelaskan mengenai tarif yang berbeda itu jangan sampai masyarakat dirugikan pelayanan yang ada di Kabupaten Mamasa.

"Indosat mesti melakukan penjelasan kepada masyarakat, minimal melalui pers, mengapa tarif menghubungi dari Mamasa justru mahal, padahal ketika masyarakat di luar Mamasa menghubungi kerabatnya ke Mamasa murah," kata Sahar warga lainnya.

Jangan sampai, lanjutnya, ada dugaan permainan tarif yang dilakukan pengelola Indosat yang ada di Mamasa, ini harus menjadi perhatian pengelola Indosat yang ada di Pulau Sulawesi jangan sampai konsumen terus dirugikan. 

Sumber : Antara News

Bupati Mamasa Raih Predikat Penyelenggaraan Pemerintahan Terbaik

Jumat, 16 Desember 2011


Bupati Kabupaten Mamasa, Ramlan Badawi menyatakan bangga atas predikat sebagai kabupaten terbaik dari lima kabupaten di Sulawesi Barat, yang mampu menerapkan sistem penyelenggaraan pemerintahan terbaik.

"Hasil evaluasi Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi yang memberikan penilaian sebagai daerah yang mampu menerapkan sistem penyelenggaraan pemerintahan tentu sangat membanggakan. Ini merupakan capaian yang harus kami pertahankan di masa mendatang," kata Ramlan Badawi usai mengikuti pengarahan Mendagri di Mamuju, Jumat.

Menurut dia, prestasi yang ditorehkan ini merupakan kerja keras semua stakeholder di daerahnya sehingga Mamasa mendapat catatan prestasi sebagai daerah yang berhasil menerapkan sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Selain itu, lanjut Ramlan, keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan itu juga karena hubungan antara eksekutif dan legislatif berjalan harmonis.

"Kerjasama apik antara eksekutif dan legislatif merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keberhasilan eksekutif juga merupakan bagian keberhasilan legislatif," jelasnya.

Untuk itu, lanjutnya, penilaian yang diberikan oleh Mendagri ini akan menjadi cambuk untuk bisa memberikan yang terbaik dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang good governance.

"Kami menyadari masih banyak kelemahan yang harus dibenahi, termasuk sistem pengelolaan keuangan agar kelak bisa meraih predikat penilaian BPK opini wajar tanpa pengecualian," terangnya.

Sebelumnya, Mendagri Gamawan Fauzi mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan Kemendagri tahun ini mencatat Kabupaten Mamasa mendapat predikat tertinggi.

Menurut dia, Kabupaten Mamuju berada pada posisi kedua, menyusul Kabupaten Polewali Mandar. Sedangkan Kabupaten Mamuju Utara berada pada posisi keempat dan posisi terendah pelayanan pemerintah daerah didapatkan Kabupaten Majene.

Mendagri menyampaikan, penilaian ini dilaksanakan untuk seluruh kabupaten/kota yang ada di Indonesia dan untuk empat kabupaten di Sulbar berada pada posisi tinggi di antara ratusan daerah tingkat II di Tanah Air.

"Kabupaten Majene secara umum berada pada posisi sedang dengan peringkat 292 se-Indonesia dan Kabupaten Mamasa menempati urutan 137 se-Indonesia," urai Mendagri Gamawan.

Sumber : antara news



Nosu


MAMASA — (MAMASA CYBER NEWS) Nosu adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Indonesia. Kecamatan Nosu terdiri dari beberapa desa yakni Desa Nosu, Desa Batu Papan, Desa Siwi, Desa Minanga, Desa Minanga Barat dan Desa Masewe.

Tradisi Mebaba' dan Mangngaro merupakan salah satu tradisi yang memiliki daya tarik tersendiri. Khusus tradisi Manggaro hanya ada di Nosu.




Nosu Merupakan Kecamatan Tertinggi di Sulawesi Barat. Wilayah Nosu yang dikelilingi Perbukitan dan hutan lebat menciptakan suasana sejuk dan dingin. Nosu adalah "Malino-nya" Sulawesi Barat. Di pagi hari Nosu selalu diselimuti embun dan kemudian menghilang sekitar jam 9 pagi. Nosu terkenal sebagai penghasil Markisa dan alpukat.




Nosu juga pernah menjadi tempat sidang raya PGI 12-16 November 2009  






Sumber mata pencarian utama masyarakat Nosu adalah kopi dan Padi.


Sumber : Ensiklopedia Wikipedia Bahasa Indonesia


Indahnya Mamasa

Minggu, 11 Desember 2011


MAMASA — (MAMASA CYBER NEWS) Mamasa adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Barat, ibu kotakabupaten ini terletak di Kota Mamasa, sekitar 340 km dari Kota Makassar atau dapat ditempuh sekitar 10 jam dengan menggunakan jalan darat.  Kota ini dapat ditempuh sekitar 6 jam dengan menggunakan mobil dari kota Pare-Pare, pusat kawasan pengembangan ekonomi terpadu di propinsi Sulawesi Selatan sekitar 190 km.

Kabupaten Mamasa yang mempunyai ketinggian ± 1000 m di atas permukaan air laut dikelilingi atau berbatasan langsung dengan beberapa daerah, bagian utara berbatasan dengan kabupaten mamaju, bagian selatan berbatasan dengan kabupaten Polewali Mandar, bagian barat berbatasan  dengan kabupaten mamuju dan bagian timur berbatasan dengan kabupaten tana Toraja dan kabupaten pinrang.

Jarak dari ibukota Kab. Mamasa ke ibukota provinsi Sulbar (Mamuju)yang melewati Kab. Polewali Mandar dan Kab. Majene berjarak 286 Km sedangkan jika melewati Kec. Mambi, Aralle, Tabulahan dan Salubatu Kab. Mamuju berjarak 148 Km dan jarak ke kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan yaitu 340 Km.

Sangat di sayangkan Rumah Asli adat Mamasa banyak yang tidak mendapatkan perawatan bahkan ada beberapa Rumah adat yang sudah direnovasi sehingga keasliannya tidak lagi dipertahankan. Sebenarnya rumah adat ini tidak menggunakan Paku sedikitpun namun oleh karna perkembangan sehingga ada beberapa rumah yang sudah menggunakan atap seng.

Pasar di Mamasa



Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat akan membangun pasar di Kabupaten Mamasa dengan anggaran sekitar Rp20 miliar di tahun 2012.

Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, di Mamuju, Selasa mengatakan, pembangunan pasar di Mamasa itu akan mengandalkan anggaran dari pemerintah pusat melalui APBN tahun 2011.

"Pembangunan pasar Mamasa telah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat untuk dianggarkan di tahun 2012 melalui APBN melalui persetujuan komisi VI DPR-RI,"katanya.

Menurut dia, untuk lahannya pemerintah di Sulbar telah menyediakan melalui jasa seorang pengusaha dari Bali yang juga putra daerah di Sulbar yakni Zaenal Tayeb.

"Pengusaha terbesar di Bali Zaenal Tayeb menghibahkan lahannya untuk membangun pasar di Mamasa sekitar empat hektar," katanya.

Ia berharap dengan akan dibangunnya pasar di Mamasa tidak akan lagi membuat masyarakat Mamasa menjadi kesulitan dalam melakukan transaksi ekonomi dan akan lancar dalam melakukan aktivitas ekonominya.

"Selama ini masyarakat Mamasa tidak memiliki pasar dalam memacu roda ekonominya dan memenuhi kebutuhan masyarakatnya," katanya menambahkan.

Pertanian di Mamasa


Penduduk Mamasa sebagian besar bergerak di sektor pertanian, karena jika di lihat dari kondisi gografis Mamasa memang sangat ber potensi untuk dijadikan sebagai daerah sector pertanian. Dalam perjalananya daerah ini sudah digarap oleh petani-petani secara berkala  salah satu daerah yang cukup potensial untuk bisa dimanfatkan sebagai jantung kethanan pangan kota Mamasa adalah daerah Sumarorong , karena berbagai macam tanaman-tanaman bisa hidup di Sumarorong , misalkan tanaman Kopi, Cokelat, Jagung, kakao, dan tanaman lainya. Dalam mengelola lahan pertanian  mereka masyarakat Sumarorong  masi mengandalkan  tenaga manual, sehingga bentuk-bentuk pertumbuhan dibidang pertanian belum begitu muncul di masayarakat luas.

Seiring dengan berkembangnya jaman daerah ini sudah mulai tersentuh dengan berbagai macam pengaruh globalisasi baik itu dalam bentuk tehknologi, pengetahuan, dan lainya. Sehingga masyarakat disini pun merasa telah menyambut hidup baru, ketika diperhadapkan dengan perkembangan-perkembangan yang begitu “agresif”  yang mampu merubah polah hidup pertanian masyarakat Sumarorong dalam waktu yang relative singkat. Kebiasaan-kebiasaan petani dalam mengelolah lahan pertanian pun sudah mulai terpola ke ranah modern. Begitu banyaknya hal yang baru masuk ke daerah ini seolah-olah telah merubah paradigma yang telah lama tertanam dalam masyarakat Sumarorong. Kini masyarakat di daerah ini dengan perlahan mulai melakoni lirik baru yang ditawarkan oleh perkembangan tehknologi. Kebiasaan-kebiasaan mengelolah lahan pertanian yang dulunya mengunakan tenaga manusia, dengan basis gotong royong kini mulai berubah dengan mengunakan tenaga mesin yang system kerjanya sangat cepat.

Dengan secara kasat mata jika dilihat dari sisi kebudayaan memang ada nilai-nilai yang hilang dalm perkembangan ini, nilai yang dimaksudkan adalah nilai kekeluargaan, solidaritas, kebersamaan, namun hal ini seolah-olah bukanlah menjadi masalah. Solidaritas, kekeluargaan, kebersamaan yang dimaksudkan di atas adalah, kebiasaan awal yag dilakukan petani sebelum tersentuh dengan budaya tehknologi, yaitu kebiasaan gotong royong masayarakat Sumarorong dalam mengolah lahan pertanian, kini telah terkikis dengan hadirnya mesin-mesin pertanian yang sistem kerjanya sangat singkat.

Tetapi di sisi lain dengan hadirnya tehknologi di bidang pertanian, justru menghidupkan pertumbuhan ekonomi yang cukup memuaskan. Hal ini bisa penulis lihat dari pemasaran hasil pertanian di Sumarorong. Awalnya hasil-hasil pertanian sebelum tersentuh ,oleh alat-alat tehknologi hanya dipasrkan di dalam daerah Mamasa itupun hasil pertanian  dan daerah tetangga seperti Pol-Man (Polewali Mandar) itupun sangat terbatas, nah setelah masuknya alat-alat tehknologi di Sumarorong daerah ini sudah mulai melangka kedepan untuk memasarkan hasil pertanianya di tingkat Kota besar seperti Makasar.




Mamasa Tondok Ku

Selasa, 29 November 2011



MAMASA - — (MAMASA CYBER NEWS) Kabupaten Mamasa adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Mamasa, sekitar 340 km dari Kota Makassar, dapat ditempuh sekitar 6 jam dengan menggunakan mobil dari kota Pare-Pare, pusat kawasan pengembangan ekonomi terpadu di propinsi Sulawesi Selatan sekitar 190 km.

Batas Wilayah :

  • Utara berbatasan dengan Kabupaten Mamuju
  • Selatan berbatasan dengan Kabupaten Polewali Mandar
  • Barat berbatasan dengan Kabupaten Mamuju
  • Timur berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja Sulawesi Selatan dan Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan
Awalnya Kabupaten Mamasa terdiri dari 4 kecamatan, yakni kecamatan Mamasa, Mambi, Sumarorong dan Pana, kemudian berkembang menjadi 10 kecamatan dan 123 kelurahan/desa.



Nosu adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Indonesia. Kecamatan Nosu terdiri dari beberapa desa yakni Desa Nosu, Desa Batu Papan, Desa Siwi, Desa Minanga, Desa Minanga Barat dan Desa Masewe.

Tradisi Mebaba' dan Mangngaro merupakan salah satu tradisi yang memiliki daya tarik tersendiri. Khusus tradisi Manggaro hanya ada di Nosu.

Nosu Merupakan Kecamatan Tertinggi di Sulawesi Barat. Wilayah Nosu yang dikelilingi Perbukitan dan hutan lebat menciptakan suasana sejuk dan dingin. Nosu adalah "Malino-nya" Sulawesi Barat. Di pagi hari Nosu selalu diselimuti embun dan kemudian menghilang sekitar jam 9 pagi. Nosu terkenal sebagai penghasil Markisa dan alpukat.




Sumber mata pencarian utama masyarakat Nosu adalah kopi dan Padi.


Potensi Daerah
Sektor Pertanian

Hasil pertanian Kabupaten Mamasa di antaranya padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, sayur-sayuran dan buah-buahan.
Sektor Perkebunan

Hasil perkebunan Kabupaten Mamasa pada umumnya berupa kopi maupun kakao, yang dikelola petani secara tradisional. Tanaman kopi yang dihasilkan petani Kabupaten Mamasa, semasa masih menjadi bagian dari Kabupaten Polmas telah memberikan konstribusi dalam mengangkat nama Polmas sebagai penghasil kopi bahkan tidak sedikit kopi asal Mamasa yang di pasarkan di daerah tetangga seperti Kabupaten Tana Toraja.
Sektor Peternakan

Pembangunan sub sektor peternakan diarahkan untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak untuk memenuhi konsumsi masyarakat akan makanan bergizi, disamping itu juga digunakan untuk meningkatkan pendapatan peternak. Di antara populasi ternak yang berkembang di Kabupaten Mamasa adalah ternak sapi, kerbau, kuda, kambing dan babi. Sedangkan untuk jenis unggas adalah ayam kampung, ayam ras dan itik lokal.
Sektor Pariwisata

Kabupaten Mamasa memiliki beberapa objek wisata, yaitu Wisata Budaya Kuburan Tedong-tedong di Kecamatan Balla, Minanga di Sesenapadang, Wisata Alam Air Terjun Sarambu, Permandian Air Panas di Desa Rambusaratu' Kecamatan Mamasa, Agro Wisata Perkebunan Markisa di Kecamatan Mamasa, Wisata Budaya Rumah Adat, Perkampungan Tradisional Desa Ballapeu, Tradisi Mebaba' dan Mangngaro di Nosu merupakan tradisi yang unik


Ketiadaan Sinyal XL Di Mamasa

Jumat, 25 November 2011

MAMASA  — (MAMASA CYBER NEWS)  Setelah selesai menjalani pernikahan di Betteng, segera, saya diantar kembali ke Kota Mamasa yang masih diguyur hujan rintik-rintik. Kegiatan perekonomian disini cukup aktif. Banyak toko buka hingga malam hari.



Seperti khasnya wilayah pegunungan, kalau hujan, biasanya justru hawa tidak terlalu dingin. Kebalikannya, kalau tidak hujan, justru hawa menjadi sangat dingin. Nah, berhubung malam itu hujan turun terus tiada henti dan saya kebasahan, alhasil, saya tetap merasa dingin. Hehehe.

Saya sempat berkeliling ke toko selular untuk membeli kartu perdana baru untuk digunakan selama di Mamasa. Hanya beberapa operator saja yang mampu hidup di Lembah Mamasa ini, yakni Telkomsel dan Indosat. Ini bukan iklan loch. Telkomsel mengklaim dirinya memiliki jangkauan dan jaringan terluas di Indonesia dan itu benar adanya. Indosat, walaupun memiliki cakupan yang hampir sama luasnya, namun kenyataannya pada beberapa tempat hanya Telkomsel saja yang masih mampu memancarkan sinyal kehidupan ponsel. Kebetulan, operator yang saya gunakan tidak bisa menangkap sinyal sama sekali. XL memang masih memiliki keterbatasan jaringan untuk untuk wilayah Timur Indonesia. Umumnya, hanya kota-kota besar di Indonesia Timur saja yang baru terlayani jaringan XL. Wilayah Mamasa belum didukung oleh XL. Di Sulawesi Selatan ini, sinyal ponsel saya hidup mati antara beberapa kota. Sinyal XL menyala di Watansoppeng, Sengkang, dan Polewali. Sinyal XL mati di Camba, Bone, Pinrang dan Mamasa.

Kemudian saya kembali melanjutkan berkeliling kota. Areal Simpang Tiga yang banyak dipenuhi tukang ojek pun ramai hingga dini hari. Di simpang tiga ini, ada banyak penjual makanan loch disini. Aneka gorengan dan cemilan kalau-kalau anda lapar pada malam hari, ada juga disini. Sempatkan main-main ke area ini untuk menikmati kue terang bulan! Sayang, saya nggak menemukan kue khas Mamasa dijajakan disini. Kota Mamasa berukuran cukup kecil, bisa habis dijelajahi dalam waktu setengah jam saja. 


Kurs USD - IDR

Sumber: BI

Forex


The Forex Quotes are Powered by Forexpros - The Leading Financial Portal.

Berita Mamasa

Majene

Kebutuhan Mamasa

 

© Copyright Berita Mamasa 2011 | Design by Mamasa Cyber News | Published by Mamasa Cyber News 2012 | Powered by MCN 2012.