News update:

Suara Mamasa

mamasa, suara mamasa, berita mamasa, budaya mamasa, korupsi mamasa, pemerintahan mamasa, pilkada mamasa, pendidikan mamasa, mamasa cyber news, kabupaten mamasa, wisata mamasa, bupati mamasa, dprd mamasa, rumah mamasa, upacara mamasa, pasar mamasa

Popular Posts

Polewali Mandar

Nasional

Rumah Adat Tokayan

Rumah Adat Tokayan adalah Rumah Adat Mamuju

Tedong Bonga

Tana Toraja tak cuma terkenal dengan budaya nya, daya tarik lain yakni adanya rumah dari kerbau termahal di dunia.

Rumah Adat Mamuju

Rumah raja mamuju dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak untuk menyatukan balok-balok kayu

Baju Adat Toraja

Pakaian adat Toraja yang telah dimodifikasi dan dikenakan oleh duta Indonesia dalam ajang Manhunt International 2011

Wisata Kali Mamuju

Kawasan objek wisata permandian alam Kali Mamuju, Sulawesi Barat mulau dipadati pengunjung saat libur panjang

Tampilkan postingan dengan label Wisata Mamasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Mamasa. Tampilkan semua postingan

Pesona Keindahan Panorama Alam Gunung Mambuliling

Kamis, 26 Januari 2012



MAMASA - (MAMASA CYBER NEWS) Gunung Mambulilling dengan ketinggian 2.741 meter dari permukaan  laut terletak di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, saat ini menjadi salah satu destinasi wisatawan lokal ataupun mancanegara.

Gunung Mambulilling memiliki panorama pemandangan yang indah yang menjadi salah satu daya tariknya.
saat ini banyak wisatawan yang datang untuk menikmati pemandangan sekaligus menguji adrenalin dengan melakukan pendakian di obyek wisata Gunung Mambuliling.

Di salah satu lembah Gunung Mambuliling kita bisa menyaksikan keindahan air terjun Sarambu Mambuliling yang sangat indah banyak pengunjung yang melakukan aksi melompat di Sarambu Mambulilling ini dengan berbagai macam gaya.

Sebenarnya masih banyak potensi wisata lainnya di Mamasa.  dan saat ini pemerintah daerah sedang berusaha menjadikan Mamasa sebagai salah satu destinasi wisata Sulawesi Barat dimana nantinya diharapkan pariwisata akan menjadi tumpuan penyumbang pendapatan asli daerah untuk memajukan pembangunan di Mamasa yang kini masih sangat tertinggal dari lima kabupaten di Sulbar lainnya.


Selain gunung Mambulilling, obyek wisata lain yang berpotensi untuk dikembangkan adalah rumah perkampungan tradisional “Balla Peu” yang dibangun secara berderet. Disana terdapat rumah yang terdiri dari sekitar 100 unit masing-masing dilengkapi lumbung padinya yang terletak di atas bukit dengan ketinggian 1.400 meter dari permukaan air laut,”.

Rumah perkampungan tradisional tersebut terdapat di Desa Balla Tamuka, Kecamatan Balla, yang kini juga banyak didatangi oleh wisatawan. Sehingga desa ini diberi gelar desa Wisata Balla Peu, yang berarti wilayah yang dibuka dengan membakar, yang kemudian secara alami ditumbuhi sayur-sayuran.

“Pada prinsipnya masih banyak potensi sumber daya budaya dan sumber daya alam yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan PAD Mamasa di masa mendatang,” SEMOGA

Perjalanan Ke Mamasa

Rabu, 25 Januari 2012



MAMASA - (MAMASA CYBER NEWS) Mamasa merupakan salah satu Etnis Toraja yang berada di Sulawesi Barat, Pemandangannya yang sangat indah dengan latar Gunung Mambuliling dan deretan pegunungan Kondosapata, merupakan daya tarik sendiri yang sulit untuk dilupakan. 

Pintu Gerbang Mamasa
Mamasa berada di ketinggian (1150 m). Kota kecil yang sudah menjadi kabupaten ini adalah daerah gunung, hutan dan sungai, dan masih memiliki ikatan kekerabatan dengan adat Toraja, tapi  "bukan toraja pada umumnya".

Sungai Mawai Mamasa dengan airnya yang jernih
merupakan pesona sendiri menjadi daya tarik Mamasa

Sungai Osango Mamasa


Mendatangi tempat ini seperti surga bagi yang gemar trekking, hiking, rafting, dan bisa juga mountain-biking, atau mau menjajal bawa mobil via jalan poros Sulawesi yang terkenal dengan jurang dalamnya dan rute yang "hancur". Bagi yang merasa shape-up, dan suka outdoor activities, inilah tempat yang cocok buat mereka. Daerah masih perawan ini nyaris belum di "ubek ubek" secara membabi buta.

Lempangan Sesena Padang, disini kita bisa melihat hamparan sawah diantara perbukitan
Perjalanan kemari cukup lama dan melelahkan. Dari  Makasar larikan mobil kearah kota penghasil beras Pinrang dan tancap terus melalui jalan mulus hingga kekota Polewali (waktu tempuh 5 jam). Rute ini adalah daerah dataran rendah melewati bibir pantai yang berudara panas garang.

Hulu Sungai Tettean Mamasa, Airnya jernih dan bebas dari sampah

Setelah lewat Pinrang tetap pacu kendaraan menuju Polewali.  Dari sini, belok masuk menanjak tajam, jalan rusak semi permanen ke Melabu dan terus mentok di Mamasa selama 4 jam lebih . Dengan lama perjalanan seperti itu dan kondisi jalan "hancur" dari  Polewali ke Mamasa, ada baiknya tidak membawa anak kecil karena akan membuat mereka kelelahan dan menderita.

Nosu merupakan salah satu Kecamatan di Mamasa

Perjalanan paling berat terasa ketika lepas dari Polewali menuju Mamasa. Panjang jalan yang hanya 90 km itu terasa amat lambat dan cukup berat karena kondisi jala yang tidak bagus. Rute Polewali ke Mamasa juga jarang dijumpai rumah penduduk, tidak ada warung, tidak ada pom bensin, dan udara terasa kian dingin dan dingin ketika posisi ketinggian makin naik kepegunungan.Karena itu, sangat disarankan utk mengisi penuh bahan bakar di Polewali sebelum belok masuk.

Pemandangan Mamasa Kota
Selain terkenal dengan alam perawannya dan udara yang dingin menyengat, Mamasa juga dianggap sebagai pusat kekuatan mistik terbesar bagi etnis Toraja. Banyak orang Toraja mengakui bahwa mereka segan jika berhadapan dengan kekuatan mistik Mamasa yang dianggap lebih hebat dari apa yang ada dalam khasanah ilmu gaib orang Tator.

Desa Orobua Mamasa

Kabar kehebatan mistik orang Mamasa memang kondang, selama disana cerita itu juga terdengar dan diutarakan dengan gaya biasa saja. Salah satunya yang terkenal adalah membangkitkan mayat dari kematiannya dan disuruh berjalan sendiri.  Ratusan tahun silam, banyak orang Mamasa pergi merantau memotong gunung dan hutan. Dalam perantauan bisa saja terjadi salah satu kawan dalam perjalanan mendadak meninggal dunia.

Hutan Mamasa
Karena kondisi alam yg berat melewati hutan dan gunung, maka teman-teman (yang masih hidup) bisa membawa pulang si mati dengan membuat upacara pembangkitan mayat. Dan jadilah mayat itu berjalan sendiri pulang kerumahnya, melewati hutan dan jurang berhari hari !

Sesampainya dikampung halaman, mayat itu disambut dengan upacara tertentu. Setelah itu si mayat didudukan didalam rumahnya hingga beberapa hari kemudian sebelum dikuburkan. Urusan "bangkit-membangkitkan" mayat ini bukan cuma kepada manusia saja. Binatang seperti kerbau yang sudah dipotong kepalanya dan dikuliti habis, masih bisa dibuat berdiri dan berlari kencang, mengamuk kesana sini!

Air Terjun Sambabo Mamasa Saingi Niagara

Minggu, 22 Januari 2012

MAMASA — (MAMASA CYBER NEWS) Pemandian alam air terjun Sambabo di Desa Ulumambi Kecamatan Bambam Kabupaten Mamasa, Sulbar yang menjadi andalan wisata daerah itu tak kalah indahnya dengan air terjun Niagara di Amerika.

"Wisatawan yang pernah berkunjung ke air terjun Sambabo menilai, air terjun tersebut mampu menyaingi keindahan air terjun Niagara yang terindah di dunia,” kata Kepala Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa Harnal Edison Tanga di Mamuju, Senin.

Ia mengatakan air terjun Sambabo memiliki keindahan yang cukup menakjubkan bagi para turis asing berada pada ketinggian 400 meter berada sekitar 10 kilometer dari Kota Mamasa atau sekitar 300 kilometer dari Kabupaten Polewali Mandar.

Selain itu, air terjun yang berasal dari kata Samba dan Botto, memiliki panorama yang indah karena berada dilereng gunung diantara gunung dan batu besar yang terjal dan hutan yang masih lestari.

“Air terjun tersebut telah ramai dikunjungi turis mancanegara seperti Jerman dan Belanda yang ingin menikmati wisata alam Kabupaten Mamasa sebagai daerah yang menjadi ikon pariwisata,” ujarnya.

Namun menurutnya, air terjun tersebut belum dikelola secara profesional sehingga wisata pemandian alam tersebut belum dapat menambah pendapatan bagi Kabupaten Mamasa dari sektor pariwisata.

Karena, kata dia, selain medannnya yang sangat sulit dijangkau untuk membangun infrasturuktur di lokasi wisata air terjun tersebut, anggaran pengembangan sektor wisata di Kabupaten Mamasa melalui APBD juga masih sangat terbatas.

Oleh karena itu, pihaknya akan mengupayakan membangun koordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulbar untuk melakukan perencanaan pengembangan wisata air terjun tersebut agar dapat dikelola secara profesional dan mendatangkan pendapatan daerah itu.

Menurut dia, selain air terjun Sambabo, Kabupaten Mamasa, juga memiliki air terjun Mambulillin yang terletak di kecamatan Mamasa, air terjun tersebut memiliki keindahan karena berada di lembah lereng bukit terindah yakni Gunung Mabulilling yang bertetangga dengan gunung Ganda Dewata yang ramai dikunjungi pendaki gunung dari seluruh wilayah Indonesia.

Sayangnya, kata dia, gunung Mambulilin yang berada pada ketinggian sekitar 2741 meter dari permukaan laut tersebut juga belum dikelola dengan baik karena keterbatasan anggaran yang dimiliki daerah itu

Wisata: Gunung Ganda Dewata

Selasa, 10 Januari 2012



MAMASA - (MAMASA CYBER NEWS) Gunung Gandang Dewata adalah salah satu gunung tertinggi yang terletak di kawasan bagian Barat Sulawesi (pegunungan Quarlesi) dan gunung tertinggi kedua di Sulawesi setelah gunung Latimojong (3478 Mdpl) yang terletak di kabupaten Enrekang. Gunung Gandang Dewata tepat berada di kabupaten Mamasa berbatasan dengan kabupaten Mamuju yang mempunyai ketinggian 3037 mdpl Sejarah gunung ini diberi nama Gandang Dewata yaitu apabila ada orang yang masuk hutan, apakah dia mau mengambil hasil hutan atau mendaki, maka apabila terdengar suara gendang dari puncak gunung berarti orang tersebut sudah meninggal. Yang menjadi misterinya adalah siapa yang memukul gendang itu?.  
    



Kalau rasio ingin menjangkau hal seperti itu adalah hal yang mustahil. Dari kota Mamasa saja gunung Gandang Dewata tidak terlihat, yang terlihat hanya gunung Mambulilling (2573 Mdpl) yaitu gunung pertama dari tujuh gunung sebelum gunung Gandang Dewata jalur menuju Gandang Dewata hingga puncak pertama kali dirintis oleh warga setempat pada tahun 1963. selanjutnya pada tahun 1993, mapala dari salah satu pengurus tinggi di Yogyakarta melakukan pendakian. Sejak itu, mulailah dikenal istilah adanya pos 10 di gunung ini.

Untuk sampai kepuncak gunung, harus melewati 10 pos dengan kondisi medan yang sangat berat. Pendaki harus melintasi 9 gunung, yakni Gunung Lante Bobbok, parandangan, Pappandangan, Lantang Lomo, Lombok Silenda, Damak-damak, Penga, Naik Daeng dan terakhir Gandang Dewata. Maka dari itu kami dari KPA GARIS Palopo ingin menaklukkan dan menapakkan kaki di puncak gunung gandang dewata tersebut dalam wild Expedition 9


Gunung yang terletak dibawah pengawasan administratif tiga kabupaten ini yaitu, Kabupaten Mamasa, Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Kalumpang di propinsi Sulawesi Barat. Puncak gunung ini juga merupakan puncak tertinggi dari jejeran pegunungan yang terbesar di pulau Sulawesi yaitu pegunungan Quarles. Butuh waktu 7 hingga 15 hari di lapangan, yang dikarenakan lokasinya yang cukup rumit dan susahnya akses transportasi. Hal ini menyebabkan gunung ini jarang sekali didaki. Namun keindahan pemandangan dari puncak gunung ini tidak kalah dengan gunung lainnya.

Sebenarnya jumlah personil untuk wild espedition ke 9 ini awalnya berjumlah 10 orang lebih tapi karna banyaknya halangan akhirnya kami berangkat hanya bertiga yaitu : saya ayyung dari KPA Garis andry dari KPA Ranting dan yang terakhir adalah Mail dari KPA Walet. Kami berangkat dari palopo minggu  27 juni 2010 dari polmas lanjut ke mamasa dengan membayar 50 ribu dengan jalan yang jelek dan penuh dengan lumpur. Tepat jam 9pm kami tiba di rumah pak daud. Pak daud adalah mantan Mantri kesehatan tetapi dia juga di jadikan sebagai juru kunci Gunung Gandang Dewata 3037 mdpl. Kalau mau menuju kota mamasa sebaiknya hari senin dan kamis karna pada hari itu adalah hari pasar ramai di mamasa tentunya banyak kendaraan.
Pada pagi hari senin sebelum memulai perjalanan kami di suru oleh pak daud untuk melapor di kapolsek. Kami diberi waktu 10 hari untuk mendaki puncak pegunungan Quarles itu. Setelah melapor kami di lepas oleh pak daud.. kami start sekitar jam 11am dari kampung baru ke desa terakhir yaitu rante pongkok, sebenarnya ada ojek untuk ke sana dengan bayaran sekitar 15 ribu tapi kami memilih berjalan kaki sekalian pemanasan. Disepanjang perjalanan menuju rante pongkok kami disapa oleh penduduk dengan sangat ramah.
Selepas dari kampung rante pongkok kami memasuki persawahan, kemudian dilanjutkan jalanan setapak menyusuri pinggiran sungai setelah melewati sungai kami sampai di percabangan semestinya kami memilih jalan terus tetapi karena hujan yang cukup lebat kami tak melihat tanda-tanda tak sengajah kami membelok ke arah atas menuju kebun warga.mungkin sekitar  2kilometer mendaki kami bertemu dengan pak tani.kami pun bertanya jalan menuju pos1 ke arah mana, sambil tersenyum pak petani menjawab kamu salah jalan sebenarnya percabangan ada di daerah bawah .
Akhirnya kami memutuskan untuk kembali di persimpangan dan memilih jalur yang tepat menuju pos1. Kami menyusuri pinggir sungai sekitar 30 menit dari persimpangan kami menemukan sungai kecil dan disitu terdapat persimpangan tetapi sudah banyak tanda-tanda di sepanjang sungai. Ketika menemukan sungai kecil jalan sudah menanjak dan lumayan licin di atas sungai itu terdapat tanah datar dengan diameter  6 m2, kami akhirnya memasang tenda di tempat itu karna tenaga kami sudah terkuras dengan salah jalur sebelumnya.malam itu kami lalui dengan kurang nyaman karna banyak nyamuk yang masuk kedalam tenda :
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalan tampa sarapan karna kami tahu ada sungai di jalur berikutnya dan kami memutuskan sarapan di pinggir sungai setelah menyebrang kami menemukan pos 1 tepat di pinggir sungai, setelah sarapan kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke pos 2, dengan tanjakan yang sangat berat dengan rempetan vegetasi pohon palem kami sampai di pos 2 sekitar jam 11am setelah pemasangan pos2KPA GARIS kami melanjutkan tak lama kami berjalan hujanpun turun dengan deras dan tiba-tiba pergelangan lutut saya sangat sakit, sesampai di pondok saya memutuskan untuk istirahat untuk hari itu karna lutut saya sudah tak tertahankan kami pun memasang POS3 KPA GARIS.sore itu saya gunukan untuk memulihkan lutut saya yang cedera. Malam yang kami lalui di hari kedua juga kurang menyenangkan biasa lah MISTIK RIMBA.

Pagi pun tiba, setelah sarapan dan beres-beres kami langsung melanjutkan perjalan sekitar jam 8am, sedikit menurun  kemudian menanjak sekitar sejam berjalan sampailah di sebuah punggungan istirahat sejenak kemudian menurun dan sampailah di pos4 di sini bisa untuk 2 tenda dan sumber air dekat, dari pos 4 menurun menemukan sebuah anak sungai karna hujan turun dengan deras jam juga menunjukan jam 11am, kami singgah untuk makan siang tetapi cuaca bertambah dingin maka kami putuskan untuk makan di punggungan gunung yang ada di depan mata. Kami pun melanjutkan perjalanan jam 2pm tepat kami tiba di sebuah punggungan di situ kami makan siang dan istirahat sejenak sambil memijat lutut saya yang tak kunjung sembuh… sekitar jam 2.30pm kami melanjutkan perjalanan menuruni bukit dan tiba di sebuah tempat yang agak luas kami pun memasang tenda dan nge-camp di tempat itu karna jam juga sudah menunjukan jam 3pm..malam yang cukup tenang di sinari cahaya rembulan mewarnai camp 3 kami.
Dari Camp3 kami melanjutkan ke pos 5 sekitar jam 8.50am tampa sarapan dikarnakan cadangan air sudah habis. janannya cukup panjang dan menurun melewati punggungan dari situ kami melihat pucuk puncak gandang dewata yang terlihat sangat biru dan kecil, melihat itu kami jadi bersemangat berjalan
Sekitar jam 10 kami sampai di pos5 di sini terdapat juga sebuah camp dan sungai yang lumayan besar, disini kami sarapan sekaligus makan siang. Sesudah sarapan melanjutkan penyebrangan basa dan melewati pinggiran tebing ada sekitar 5 kali penyebrangan basa, bila debit air melimpah disarankan penyebrangan menggunakan webing atau tali..setelah menyebrang sungai kita di sambut dengan tanjakan kemudian melewati punggungan dan tibalah kami di pos 6, disini agak luas bisa untuk 2 tenda tak ada sumber air. Dari pos 6 kami menurun dan menemukan sebuah patahan lungsor kemudian sebuah daerah agak datar kami pun memasang tenda dan nge-camp4 di tempat itu malam yang kami lalui sangat nyaman sayang tanahnya agak miring jadi tidurnya juga susah,
Esok paginya setelah sarapan kami langsung melanjutkan ke pos berikutnya yaitu pos 7 tetapi melewati jalan yang curam sehingga kami seringkali terperosot jatuh.pos7 ini dekat dengan air terjun dan bisa juga ngekemp di sini cukup untuk 4 tenda tapi harus berhati-hati karna kayaknya agak gimana gitu ?????, setelah menyebrang air terjun kami disambut tanjakan yang sangat berat dan agak panjang dengan susah payah mendaki akhirnya tiba di pos8 pada jam 12am. Pos ini bisa dijadicamp darurat dapat menampung 3 tenda tetapi sumber air tidak ada di tempat ini camp ini terdapat sebuah pohun damar yang sangat besar dan getahnya bisa dijadikan pemancing api buat perapian. Karna hari jumat jadi kami memutuskan untuk istirahat nanti dilanjutkan kembali pada jam 1pm. Setelah istirahat kami melanjutkan ke pos berikutnya jalurnya masih menanjak tetapi tak terasa karna kami juga mencari buah kalpataru yang jatuh, pos9 sangat bagus sekali untuk camp bisa menampung 5 tenda tetapi tak ada sumber air karna hari belum terlalu gelap kami melanjutkan perjalanan, setelah pos 9 kami menanjak lagi tanahnya agak gersang dan banyak ditumbuhi bambu-bambu kecil, di sini tenaga kami sudah terkuras habis karna perjalanan yang sudah mencapai hari ke lima, jam menunjukan ukul 4pm kami terpaksa camp di sebuah tanah datar karna cuaca kayaknya tak bersahat kabut mulai turun dan di khawatirkan tak ada tempat yang cocok kami temukan di atas sana..kami pun memasang tenda dan nge-camp yang ke 5, malam yang kami lewati penuh dengan angin kencang dan hujan yang lumayan deras tetapi sesaat…
Pagi tiba tampa sarapan kami meninggalkan tenda dan menuju ke puncak karna menurut analisa kami puncak sudah sangat dekat, sayapun mengambil besi yang akan saya pasang di puncak sebagai TOWER NRA KPA GARIS Palopo, menanjak sedikit kemudian melewati bekas longsoran kemudian menanjak lagi sesampai di punggungan jalur ke puncak agak melandai. Dan Alhamdulillah tepat jam 9 kami tiba di Puncak Tertinggi di Sulawesi Barat yaitu G.Gandang Dewata 3037 MDPL. Saya pun langsung sujud sukur karna dibrikan kekuatan oleh allah swt. Sehingga dapat sampai di puncak dengan kondisi lutut yang troubel.sambil istirahat sayapun memasang dan merancang besi tower saya.sekitar sejam kami Foto-foto dan kibar bendera kami kembali ketenda untuk sarapan dan kemudian beres-beres tepat jam 10 kami berjalan kembali pulang melewati terjalnya jalan pulang pos9 telah terlewat kami tiba di pos8 pada jam 11, kami istirahat sejenak kemudian berjal kembali sesampai di pos 7 kami di sambut dengan tanjakan hebat, sehingga membuat semua personil drop dan terpaksa nge-camp di tempat kami pada hari ke 4malam itu lumayan nyaman karna kami bercerita sambil ngopi bertiga, tetapi kompor yang kami bawa bermasalah jadi agak lama masaknya.
Pagi tiba jam 8  seperti biasa tampa sarapan kami langsung berjalan kami disambut tanjakan menuju pos 6, dari pos 6 jalan agak melandai kemudian menurun, lalu penyebrangan basah menuju pos 5, hati-hati string di jalur ini agak jarang jadi mata harus jeli melihat tanda-tanda, sesampai di pos5 kami sarapan sambil makan siang dan melanjutkan ke pos berikutnya, dari pos lima menuju pos empat lumayan sulit karna tanjakan yang cukup panjang sengingga mendapat tempat camp kami yang ke3 di sini kami istirahat sejenak lalu lanjut ke punggungan dari punggungan kami memantau cuaca ternyata dapat di lanjutkan meski agak mendung, dari punggungan kami menurun kemudian sampai di anak sungai tampa istirahat kami melanjutkan ke pos4 di pos 4 mail sudah tak sanggup berjalan karna trobel pada lutut sehingga memaksa kami untuk nge-camp ke7 di pos4, karna kompor yang bermasalah akhirnya kami memasak menggunakan ranting-ranting kering malam yang kami lalui sangat tidak bersahabat karna hujan yang terus turun di sepanjang malam,
Pagi tiba tampa sarapan kami lanjutkan perjalanan menanjak ke punggungan, di punggungan ini kami dapat melihat kota mamasa dari kejauhan, kemudian turun ke pos3, di pos tiga kami sarapan tak lupa saya munghubungi istri saya di palopo mengabari kondisi kami yang baik-baik saja setelah itu melanjutkan perjalanan menuju pos2 dan sangat banyak kalpataru di perjalanan tersebut, di pos 2 tanpa  lama-lama kami lanjut ke pos 1 jalur inilah yang sangat susah bagi kami bertiga karna jalur dari pos2 ke 3 merupakan turunan hebat dan curam apalagi diperparah dengan hujan semalaman, kami hanya bisa pasrah apa bila terjatuh dan terguling, dengan susah payah kami sampai di pos1, menyebrang sungai kemudian melanjutkan perjalanan ke rante ponggkok di perjalanan menuju rante pongkok kami di sambut sapaan dari masyarakat dan tak lupa foto-foto “meski kaki sakit bro” dari rante pongkok kami melanjutkan ke kampung baru tepat jam 3 kami tiba di rumah bapak daud juru kunci gandang dewata, saya pun langsung bersih-bersih dan pergi melapor ke kapolsek mamasa melaporkan bahwa tim kami sukses sampai di puncak dan kembali dengan selamat.

Air Terjun Liawan: Tujuan Wisata Mamasa

Sabtu, 07 Januari 2012




MAMASA - (MAMASA CYBER NEWS) Air Terjun Liawan berada pada ketinggian sekitar 1000 m dpl dengan suhu sekitar 17 derajat Celcius Terletak di Desa Tradisi, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Propinsi Sulawesi Barat.


Aksesbilitas
Berjarak sekitar 1.8 km dari pusat kota Sumarorong kearah sebelah timur, atau sekitar 34 kilometer dari Kota Mamasa, Sulawesi Barat dan dapat  dicapai dengan jalan kaki atau dengan sepeda motor.

Bagi yang menggunakan kendaraan umum (bus/minibus/panther), untuk mencapai Mamasa-Sumarorong bisa dari arah Mamuju, ibu kota propinsi Sulawesi Barat, atau melalui Makassar, Sulawesi Selatan. Jaraknya hampir sama, ditempuh sekitar 10 jam, biaya kendaraan pun sama sekitar Rp. 100.000,-.

Tiket dan Parkir

Tiket masuk adalah Rp. 3.000/orang/satu kali kunjungan.

Fasilitas dan Akomodasi

Tersedia tempat beristirahat berupa dangau tempat duduk-duduk dan bersantai.  Juga ada pondok penginapan yang berjumlah 5 buah bagi yang ingin menginap.

Air Terjun Sambabo Wisata MAMASA

MAMASA - —(MAMASA CYBER NEWS) Pemandian alam air terjun Sambabo di Desa Ulumambi Kecamatan Bambam Kabupaten Mamasa, Sulbar yang menjadi andalan wisata daerah itu tak kalah indahnya dengan air terjun Niagara di Amerika.

"Wisatawan yang pernah berkunjung ke air terjun Sambabo menilai, air terjun tersebut mampu menyaingi keindahan air terjun Niagara yang terindah di dunia, "kata Kepala Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa Harnal Edison Tanga di Mamuju, Senin.

Ia mengatakan air terjun Sambabo memiliki keindahan yang cukup menakjubkan bagi para turis asing berada pada ketinggian 400 meter berada sekitar 10 kilometer dari Kota Mamasa atau sekitar 300 kilometer dari Kabupaten Polewali Mandar.

Selain itu, air terjun yang berasal dari kata Samba dan Botto, memiliki panorama yang indah karena berada dilereng gunung diantara gunung dan batu besar yang terjal dan hutan yang masih lestari.

Air terjun tersebut telah ramai dikunjungi turis mancanegara seperti Jerman dan Belanda yang ingin menikmati wisata alam Kabupaten Mamasa sebagai daerah yang menjadi ikon pariwisata, ujarnya.

Namun menurutnya, air terjun tersebut belum dikelola secara profesional sehingga wisata pemandian alam tersebut belum dapat menambah pendapatan bagi Kabupaten Mamasa dari sektor pariwisata.

Karena kata dia, selain medannnya yang sangat sulit dijangkau untuk membangun infrasturuktur di lokasi wisata air terjun tersebut, anggaran pengembangan sektor wisata di Kabupaten Mamasa melalui APBD juga masih sangat terbatas.

Oleh karena itu, pihaknya akan mengupayakan membangun koordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulbar untuk melakukan perencanaan pengembangan wisata air terjun tersebut agar dapat dikelola secara profesional dan mendatangkan pendapatan daerah itu.

Menurut dia, selain air terjun Sambabo, Kabupaten Mamasa, juga memiliki air terjun Mambulillin yang terletak di kecamatan Mamasa, air terjun tersebut memiliki keindahan karena berada di lembah lereng bukit terindah yakni Gunung Mabulilling yang bertetangga dengan gunung Ganda Dewata yang ramai dikunjungi pendaki gunung dari seluruh wilayah Indonesia.

Sayangnya kata dia, gunung Mambulilin yang berada pada ketinggian sekitar 2741 meter dari permukaan laut tersebut juga belum dikelola dengan baik karena keterbatasan anggaran yang dimiliki daerah itu.

15 Persen APBD Mamasa Untuk Sektor Wisata

Selasa, 29 November 2011



MAMASA — (MAMASA CYBER NEWS) Sebanyak 15 persen dari anggaran APBD Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat akan dialokasikan untuk sektor wisata tahun 2012.

"APBD Kabupaten Mamasa masih sangat minim, dibandingkan dengan anggaran kebutuhan untuk mengembangkan Mamasa sebagai daerah destinasi wisata di Sulbar," kata Bupati Mamasa, Ramlan Badawi di Mamuju, Sabtu.

Ia mengatakan, APBD Mamasa pada tahun 2011, sekitar 247 miliar tidak cukup untuk membangun sejumlah infrastruktur untuk pengembangan wisata di Kabupaten Mamasa, karena anggaran itu hanya cukup untuk membangun infrastruktur di bidang ekonomi.

Meski begitu kata dia, pemerintah di Kabupaten Mamasa, tetap akan berkomitmen pada tahun 2012 mendatang akan meningkatkan anggaran untuk sektor wisata sekitar 15 persen pada APBD.

"Pada tahun ini, anggaran sektor wisata di Mamasa, hanya sekitar lima persen pada APBD karena jumlah APBD yang terbatas, tetapi pada tahun 2012 anggaran sektor wisata tersebut akan ditingkatkan menjadi 15 persen," katanya.

Menurut dia, pemerintah di Mamasa, meningkatkan anggaran sektor wisata pada tahun 2012 mendatang hingga 15 persen sebagi bentuk keseriusannya dalam menjadikan Kabupaten Mamasa sebagai daerah tujuan wisata atau daerah destinasi wisata di Sulbar.

"Pemerintah di Mamasa mendukung pencanangan Mamasa sebagai daerah destinasi wisata yang dilaksanakan pemerintah di sulbar sehingga pemerintah di Mamasa akan mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk sektor wisata di Mamasa," ucapnya.

Ia mengatakan, anggaran sektor wisata yang dialokasikan pemerintah di Mamasa, nantinya akan digunakan membangun sejumlah infrastruktur pada sejumlah potensi wisata yang belum memadai.
Menurut dia, pengembangan wisata Mamasa yang disebut bumi "Kondo Sapata" diseriusi pemerintah karena potensi wisata sebagai salah satu di daerah di Sulbar yang memiliki keanekaragaman budaya unik dan menarik untuk dinikmati wisatawan serta menjanjikan untuk meningkatkan ekonomi daerah.

"Wisata Mamasa yang juga mengandalkan wisata alam sangat indah dinikmati dan akan menarik wisatawan khususnya panorama alamnya yang dikelilingi pegunungan, wisata permandian air terjun dan air panas serta obyek wisata menarik lainnya, diyakini akan dapat meningkatkan ekonomi daerah sehingga akan terus dikembangkan," katanya.


Messawa, Pintu Gerbang Lembah Mamasa

Minggu, 27 November 2011



MAMASA — (MAMASA CYBER NEWS) Messawa adalah salah satu kecamatan Mamasa yang paling bawah, berbatasan langsung dengan Anreapi dan Tapango di Polewali. Seperti layaknya lokasi manapun di Mamasa, Messawa terletak di ketinggian pegunungan. Pemandangan khas wilayah ini adalah perbukitan hijau yang mengelilingi dimanapun kita memandang. Tak jarang, awan dan kabut memenuhi puncak-puncak bukit dan gunung di wilayah ini. Suhu di Messawa hampir selalu dingin setiap saat. Walau dingin, Messawa ini belum berada di puncak Mamasa loch. Jalanan masih akan terus menanjak selama kurang lebih 4 jam lagi. 

Tadinya saya sudah kuatir akan melewatkan makan siang dan baru berjumpa makanan berat setelah tiba di Mamasa Kota yang artinya sudah gelap. Wah, bakalan membosankan juga nich berjam-jam di dalam kijang menahan lapar dan menahan mabuk. Hahahaha. Maklum, jalanan di Mamasa kan cakep banget tuh. Wajar banget kalau saya bisa-bisa jackpot berkali-kali. Beberapa travel agent yang saya tanyakan saja hampir selalu menolak kalau saya mengajukan permintaan ke Mamasa. Entah jalanannya rusak, hujan yang turun terus, hingga berbagai macam alasan yang ujung-ujungnya akan membengkakkan biaya total perjalanan yang pastinya akan membuat saya mundur. Biaya perjalanan ini terasa konyol sekali dibandingkan dengan Tana Toraja yang sudah memiliki akses Trans-Sulawesi. Saya mencoba untuk membuat Mamasa dalam jadwal perjalanan saya dan saya tercengang akan harga yang saya terima. Pencabutan Mamasa membuat total biaya perjalanan saya jadi murah meriah. Jalan-jalan ke Tana Toraja terhitung sangat murah apabila dibandingkan dengan Mamasa. Tapi saya nggak menginginkan Mamasa dicabut. Saya harus dan wajib berkunjung kesini. Maka dari itu, dengan segala cara, saya melakukan perjalanan ini. Saya nekad ke Mamasa walau kejelasan angkutan yang akan membawa saya kesana tidak ada sama sekali.  


Untungnya, harapan saya terkabul. Kijang yang saya tumpangi berhenti di Messawa untuk makan siang. Kayaknya, kijang atau kendaraan dengan jarak tempuh di atas 4 jam akan memiliki satu sesi khusus yach untuk berhenti, beristirahat dan makan siang? Yach, yang jelas saya sangat bersyukur banget kijang ini berhenti biar para penumpangnya bisa mengisi perut. Hehehe. Namun, saat saya turun, saya tercengang. Lagi-lagi saya tercengan. Saya menemukan tulisan Sop Betawi di salah satu papan rumah makan yang ada disini. Ya elah, jauh-jauh ke pedalaman Sulawesi, makannya nggak jauh-jauh dari Sop Betawi. Hahaha. Saat itu saya edarkan pandangan saya berkeliling dan saya baru menyadari, hampir (atau tepatnya, seluruh) rumah makan di Messawa ini dikelola oleh orang Jawa atau orang Pangkep. Rumah makan yang tampak adalah rumah makan Pangkep yang terkenal dengan Sop Saudaranya dan rumah makan Jawa atau Jakarta dengan hidangan khas seperti ayam goreng, gado-gado, bakso, dan nasi sop. Sayang sekali, nggak ada makanan khas Mamasa sama sekali. 

Yah, saya pun nggak bisa memilih koq. Rombongan kami masuk ke dalam salah satu rumah makan Pangkep. Rumah makan ini terlihat paling ramai dan menyediakan menu paling banyak diantara rumah makan lainnya. Beberapa menu khas rumah makan ini adalah Coto Makassar, Nasi Ayam Goreng, Cumi-Cumi, Ikan Laut Goreng, Sop Betawi, Sop Konro, Sop Saudara dan Sate Ayam. Unik juga, di tengah-tengah gunung begini seafood masih bersaing rupanya. Saya memesan Sop Saudara dech, biar cita rasa Sulawesinya masih kentara. Nggak lucu donk jauh-jauh ke Sulawesi terus makannya sesuatu yang biasa kita makan. Pengalaman kemarin makan mie ayam nggak usah diulang lagi dech. Kali ini kan ada pilihan lain. Hehehe. Rasa makanan ini hampir sama seperti Sop Saudara yang sudah saya kenal sebelumnya. Gurih (tambahkan sedikit lagi garam) dan penuh dengan potongan daging (saya sampai kenyang banget). Sop Saudara ini disajikan dengan sepiring utuh nasi. Nasi tambahan disajikan dalam keranjang-keranjang plastik di atas meja. Sudah dua kali saya melihat kejadian ini, yakni di Sengkang dan sekarang di Messawa. Asyik juga sich bisa tambah nasi dengan mudah. Tapi, saya nggak serakus itu. Hehehe. Saya makan secukupnya saja, takut kalau sampai jackpot, semuanya akan dimuntahkan. Masih 4 jam lagi perjalanan menuju Kota Mamasa loch.

Makan siang di Messawa cukup murah meriah lah. Untuk nasi sepuasnya dan satu mangkuk Sop Saudara, saya hanya dikenakan harga Rp. 15.000. Harga makanan lainnya bervariasi mulai dari Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000. Nggak terlalu mahal pokoknya. Sayang, waktu para penumpang menghabiskan makanan di tempat ini nggak terlalu panjang. Sayang. Belum selesai saya mengunyah sendokan nasi dan daging terakhir, pak supir sudah bergegas kembali ke mobil dan diikuti oleh sejumlah penumpang yang telah menyelesaikan makanannya. Saya jadi terburu-buru mengunyah dan membayar makanan saya dech. Padahal, saya melihat ada beberapa orang sedang menikmati singkong goreng. Hmm...kayaknya enak dech makan singkong goreng hangat di suhu dingin-dingin begini. Tapi maaf, Mamasa menunggu. Kalau nafsu lidah dituruti, bisa-bisa saya sampai di Mamasa besok kali yach? Hahaha.


Potensi Wisata Mamasa Diharapkan Bisa Saingi Toraja

Sabtu, 26 November 2011


Potensi wisata yang ada di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat diharapkan bisa menyaingi Kabupaten Tana Toraja Provinsi Sulawesi Selatan yang sudah terkenal di seluruh dunia.

'Kabupaten Tana Toraja, Sulsel, sudah menjadi milik dunia karena potensi wisata di daerah itu sudah terkenal hingga seluruh dunia,' kata Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh di Mamuju, Senin.

Ia mengatakan, aset wisata dan kebudayaan yang ada di Kabupaten Tana Toraja cukup fantastis karena sudah dikenal hingga ke seluruh manca negara, sehingga daerah itu selalu dikunjungi wisatawan asing dan sektor wisata daerah berkembang pesat meningkatkan pendapatan daerahnya.

Menurut dia, pemerintah di Sulbar sangat berharap potensi wisata yang ada di Kabupaten Mamasa dapat seperti di Kabupaten Tana Toraja, dengan mengelolanya secara profesional agar turut dikenal hingga ke manca negara seperti Tana Toraja.

'Sesungguhnya Mamasa memiliki keunggulan potensi wisata yang sama dengan Tana Toraja, karena Mamasa memiliki ciri khas kebudayaan yang sama dengan Kabupaten Tana Toraja, sehingga apabila di promosikan dengan benar, maka akan dapat seperti Tana Toraja,'katanya.

Gubernur mengatakan, pada saat pencanangan Mamasa sebagai daerah destinasi wisata di Sulbar, Kabupaten Mamasa telah menampilkan beraneka ragam kebudayaan yang dimilikinya berasal dari 17 Kecamatan di daerahnya.

'Sekitar 300 peserta datang dari 17 Kecamatan di Mamasa menampilkan aneka budaya dan potensi wisata daerahnya, yang membuat kagum semua pengunjung yang datang ke daerah itu menyaksikannya, seluruhnya kebudayaan yang ditampilkan mirip dengan kebudayaan yang ada di Kabupaten Tana Toraja karena pada dasarnya Mamasa dan Toraja secara berbatasan wilayah yang kebudayaannya serumpun,'katanya.

Oleh karena itu ia mengatakan, pemerintah di Sulbar melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan harus maksimal mengelola potensi wisata Mamasa agar dapat maju dan terkenal hingga menarik wisatawan manca negara dan pendapatan daerah ini dapat meningkat.

'Bukan hanya Tana Toraja saja yang bisa disaingi tetapi kebudayaan masyarakat di Danau Toba di pulau Sumatera di pulau Bali akan dapat disaingi Mamasa yang memang kaya akan potensi budaya apabila potensi wisata daerah itu dikelola dengan benar dan profesional,'katanya.


Selamat Datang di Kota Mamasa

Jumat, 25 November 2011


MAMASA  — (MAMASA CYBER NEWS) Mamasa yang saya lihat pagi itu adalah sebuah kota kecil yang dikelilingi pegunungan yang tertutup kabut tebal. Indah sekaligus berkesan mistis. Memang, dibandingkan dengan saudaranya, Toraja, Mamasa lebih jarang terekspos dan terkesan lebih ‘pedalaman’. Nggak heran, akses jalan yang rumit dan sukar membuat perjalanan ke Mamasa terkesan kurang ‘menarik’untuk dijadikan objek wisata tujuan. Akibat dari hal ini, tidak banyak yang diketahui tentang Mamasa. Pembangunan pun lambat merasuk ke tempat ini. Kurang beruntungnya Mamasa, Toraja sudah lebih dahulu terkenal puluhan tahun jauh sebelum Mamasa mulai dikenal. Itu sebabnya istilah ‘Toraja Barat’ melekat pada Mamasa. Ya, Mamasa harus memupuk citra terlebih dahulu sebelum akhirnya terkenal seperti Toraja. 

Kenapa sich kedua tempat ini sering sekali disebut berbarengan? Sederhana saja, kedua kebudayaan ini kerap kali disebut sebagai kebudayaan kembar. Satu di sebelah barat dan satunya lagi di sebelah timur. Mereka berdua memiliki kebudayaan yang hampir mirip. Mereka berdua memiliki seni ukiran rumah yang sama, teknik penguburan mayat yang serupa, pakaian adat yang sama, dan bahasa yang sama. Perbedaan Mamasa dan Toraja baru tampak apabila kita memperhatikan sejumlah detail. Perbedaan tersebut antara lain : Tongkonan di Toraja tidak populer di Mamasa. Walaupun di Mamasa terdapat Tongkonan, namun Mamasa mengenal rumah adat yang disebut dengan Banua, baik Banua Layuk, Banua Sura, Banua Longkarrin, Banua Bolong, atau Banua Rapa. Secara fisik, Banua dan Tongkonan sudah berbeda. Tongkonan beratap melengkung, sementara Banua lebih landai. Walaupun ukiran-ukiran yang terdapat di sekujur rumah adat mereka berdua sama, namun terdapat perbedaan mendasar. Pada hiasan pada pucuk atap, orang Toraja menggunakan ayam jantan yang berdiri di atas matahari. Pada kebudayaan Mamasa, mereka mengenal pohon kehidupan dan tedong atau kerbau. Walaupun mereka memiliki bahasa yang sama, namun dalam beberapa bagian, bahasa mereka berbeda. Orang Toraja tidak bisa 100% memahami bahasa Mamasa begitu juga sebaliknya. Pada sisi kebudayaan pun, upacara adat Rambu Solo dan Rambu Tuka khas Toraja juga hadir di Mamasa namun dalam bentuk yang lebih sederhana. Inilah Mamasa dengan segala keunikan budaya dan kecantikan alamnya.  

Lempangan Mamasa
Saya memulai perjalanan pagi itu dengan berputar-putar di pusat kota yang memang berukuran tidak terlalu besar. Saya mengawali ke-Mamasa-an saya dengan melihat arsitektur Banua Sura yang diterapkan untuk beberapa bangunan modern di pusat kota serta beberapa gereja tua. Banua Sura, secara harafiah berarti rumah ukir. Dari semua jenis rumah di Mamasa, Banua Sura adalah rumah yang paling indah. Kota Mamasa yang tidak berukuran besar tersebut sudah memiliki banyak sarana pendukung yang cukup komplit. Hampir semua pusat kegiatan masyarakat yang umum kita jumpai di perkotaan, ada di Mamasa. Sebut saja toko kelontong, salon, toko otomotif, gereja, masjid, sekolah, pasar, travel agent, restoran umum, balai pertemuan, rumah sakit kelas C, kantor pemerintahan, ada semua di Mamasa. Mayoritas penduduk Mamasa beragama Kristen. Maka dari itu, jangan heran kalau anda melihat banyak sekali gereja di berbagai tempat, baik yang cantik maupun sekedar kotak biasa saja. Pusat kota ini berada di lapangan besar yang tepat berada di tengah kota. Lapangan ini selalu menjadi pusat aktifitas masyarakat seperti bermain bola, upacara, dan berkumpul. Sungai Mamasa yang lebar dan berarus deras mengalir membelah kota ini. Kota Mamasa adalah kota resort yang cantik. Tempat yang sangat tepat sekali untuk beristirahat dan menarik diri dari rutinitas kota. Pacu kehidupan anda akan melambat sama sekali di tempat ini. Bisa jadi, anda pun akan kesulitan dihubungi disini lantaran sinyal ponsel yang agak terbatas.


Mamasa Tawarkan Wisata Alam dan Budaya SULAWESI BARAT


MAMASA  — (MAMASA CYBER NEWS)  Potensi wisata yang dimiliki Bumi Kondo Sapata sangat beragam, mulai dari wisata alam hingga budaya.Pemprov Sulbar bahkan telah menjadikan Mamasa sebagai tujuan wisata andalan Sulbar.

Hawa sejuk mulai terasa sejak memasuki perbatasan Kabupaten Polewali Mandar dan Mamasa. Panorama alam berkontur pegunungan yang tinggi dan jurang di sepanjang jalan menuju Mamasa, menjadi salah satu pemandangan wisata alam yang indah.

Badan yang pegal seusai menempuh perjalanan sepanjang 92 kilometer selama tujuh sampai delapan jam, hilang sudah dengan berendam di kolam air panas. Kolam yang terawat dengan baik di kawasan Mamasa Cottage ini cukup mudah dijangkau. Jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari Kota Mamasa.

Sambil berendam di kolam air panas, tanaman padi yang mulai menguning di petak-petak sawah bertingkat, menjadi pemandangan yang menyegarkan mata. Pegunungan Mambuliling yang menjulang tinggi dengan kokohnya, berdampingan dengan Gunung Gandang Dewata menjadi latarnya.

Obyek wisata Kabupaten Mamasa sebenarnya sangat berlimpah. Berkunjung ke Bumi Kondo Sapata, tidak hanya menemukan kolam air panas, atau sekadar merasakan sejuknya udara Kota Mamasa.

Pengunjung obyek wisata dapat pula menyaksikan kuburan tua Minanga yang telah berusia ratusan tahun. Kompleks perkampungan dengan rumah adat yang masih terjaga, tidak hanya dapat disaksikan di Tana Toraja.

Meluangkan waktu sejenak ke perkampungan desa wisata Ballapeu, ketakjuban terhadap kompleks rumah adat telah dapat dinikmati.

Atau, jika memiliki waktu yang lebih banyak untuk melakukan hiking atau berjalan ke pegunungan, Mamasa menawarkan wisata jalan kaki ke Gunung Mambuliling. Selain menikmati panorama alam yang indah, rasa capek habis berjalan jauh terobati dengan menikmati kesejukan air terjun Mambuliling.



Obyek wisata lainnya yang cukup banyak di Kabupaten Mamasa, sebenarnya sangat berpotensi meningkatkan pendapatan daerah, jika mendapat pengelolaan yang cukup baik. Infrastruktur perhubungan juga perlu mendapat perhatian serius, terutama jalan yang menghubungkan Polewali-Mamasa-Tana Toraja, agar dapat menggaet wisatawan.

Kabid Pemberdayaan Pelaku Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Mamasa, Obed Parapasan, mengakui masih minimnya perhatian pemerintah mengembangkan obyek wisata. Kendalanya, selalu alasan klasik, yakni masalah anggaran.

"Upaya promosi yang dilakukan selama ini, masih sebatas pembuatan leaflet atau brosur dan beberapa kali mengikuti even pameran. Tetapi obyek wisata yang ada masih belum mendapat sentuhan yang memadai untuk lebih mengembangkan dan menarik minat wisatawan," jelasnya.

Menurutnya, agar obyek wisata yang ada di Mamasa dapat diperkenalkan dengan baik ke luar daerah, dibutuhkan adanya situs khusus Dinas Pariwisata Mamasa di dunia maya atau internet. Namun, keterbatasan infrastruktur, menjadikan rencana ini masih sebatas keinginan yang belum terwujud.


Mamasa Miliki Air Terjun Menawan Bagi Wisatawan

Air Terjun Sarambu Liawan - Mamasa

MAMASA  — (MAMASA CYBER NEWS) Kabupaten Mamasa sebagai daerah destinasi wisata unggulan di Provinsi Sulawesi Barat, tercatat memiliki sejumlah objek wisata air terjun yang menawan untuk dikunjungi wisatawan.

Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sulbar, Ilham Atjo, di Mamuju, Rabu, mengatakan Kabupaten Mamasa sejauh ini cukup menjadi andalan pihaknya dalam upaya mendatangkan para wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ia mengatakan, daerah itu memiliki sejumlah objek wisata air terjun yang menawan dan menarik untuk dikunjungi para wisatawan, di antaranya air terjun Sarambu Silolo di Kecamatan Nosu, sekitar 60 kilometer dari Kota Mamasa.

Air terjun itu dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua dan empat dengan menempuh hutan subtropis yang cukup rindang dan lebat.

Selain itu juga air terjun Sarambu Liawan di Kecamatan Sumarorong sekitar 34 kilometer dari Kota Mamasa. Air terjun itu juga terletak di alam perbukitan yang sejuk serta persawahan dan tanaman agro yang menghijau.

"Air terjun Sarambu Liawan, menurut cerita adalah tempat bermandi bidadari dan putri raja. Air terjun ini memiliki tinggi sekitar 200 meter dan sudah dilengkapi fasilitas pariwisata yang memadai untuk dikunjungi," katanya.

Selain itu, kata dia, terdapat pula air terjun Sambabo yang tak kalah indahnya dibandingkan air terjun yang lainnya di Mamasa. Air terjun ini terletak di Kecamatan Bambang, sekitar 22 kilometer dari Kota Mamasa.

"Keindahan alam juga terdapat di air terjun yang berada di areal hutan subtropis di pegunungan tinggi dengan udara yang sejuk itu," katanya.

Menurut dia, air terjun lainnya di Mamasa yang tak kalah indahnya untuk dinikmati adalah air terjun Panetteang di Kecamatan Aralle, karena air terjun iini memiliki batu berlapis, dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dari Kota Mamasa.

Ia berharap wisatawan lokal dan mancanegara yang menyukai wisata permandian, dapat berkunjung untuk menikmati keindahan sejumlah objek wisata itu.



Wisata Alam Limbong Babak



MAMASA  — (MAMASA CYBER NEWS)  Kolam Limbong Babak ini sering diceritakan orang tua ketiga mendongeng untuk anak cucu mereka di malam hari. Saya bertemu beberapa petua adat yang bersedia bercerita mengenai tempat ini.

Menurut masyarakat atau petua adat setempat, dulunya lokasi ini masih banyak di tumbuhi pohon besar. Kolam yang ada dulunya kecil saja, tetapi tidak pernah kering walaupun pada musim kemarau karena ada mata air yang cukup besar. Orang-orang dulu menjadikan tempat mengembala kerbau. Setelah dibuatkan pematang(Kondo), berubahlah menjadi kolam yang besar seperti sekarang.

Konon dulu kala, tempat ini dikeramatkan, sering ditempati oleh nenek moyang meminta sesuatu yang mereka inginkan, miminta keturunan, rezeki atau benda-benda gaib. Tempat ini sering juga dijadikan tempat memuja para dewa-dewa atau roh-roh yang mereka percayai. Dengan membawa berbagai macam sesajen seperti nasi pulut, telur, ayam. Bahkan yang mampu bisa membawa babi untuk di persembahkan kepada dewa-dewa dan roh-roh dan untuk dimakan secara bersama-sama.

Ada bebera fenomena yang aneh dan unik di tempat ini seperti:

  1. Adanya tedong manurun (kerbau siluman) yang sering muncul di sekitar tempat ini utamanya di tengah-tengah kampung Batu Ma’tombon sebab dengan adanya satu sumur di tengah kampung kira-kira seluas 1×1 meter yang di perkirakan tembusan dari “Limbong Babak”. Jika kita membuang buah jeruk ke dalam sumur tersebut, beberapa saat kemudian muncul di kolam Limbong Babak.
  2. Adanya Lulun latte( semacam ular naga) yang berada di dalam kolam, yang sering terlihat di anggap bebahaya bagi masyarakat setempat.
  3. Adanya kayu awuk( semacam benda gaib) di tengah-tengah kolam, yang katanya menimbulkan aroma yang enak. Pada waktu memnadikan kerbau, misalnya, kerbaunya terus mencari benda ini sampai dia dapat.
Saya mengajak wisatawan lokal maupun internasional menyaksikan tempat unik yang masih orisinil ini. Bila dikelolah dengan baik, tempat ini layak jadi objek berwisata. Sejauh ini, Pemerintah Kabupaten Mamasa, khususnya dinas pariwisata belum secara resmi mengakui sebagai salah satu objek wisata.
Saya berharap pemerintah dapat memanfaatkan potensi wisata ini.

Penulis: Demianus Tarra’

Sumber : IKRM-Blogspot


Kurs USD - IDR

Sumber: BI

Forex


The Forex Quotes are Powered by Forexpros - The Leading Financial Portal.

Berita Mamasa

Majene

Kebutuhan Mamasa

 

© Copyright Berita Mamasa 2011 | Design by Mamasa Cyber News | Published by Mamasa Cyber News 2012 | Powered by MCN 2012.